Esai, Unek-Unek

Ponsel Pintar Tak Sepintar Penggunanya

Pict by : Twitter

Zaman sudah semakin maju, teknologi juga berkembang pesat. Hadirnya smartphone menjadi salah satu canggihnya teknologi sekarang. Hampir seluruh orang di dunia memilikinya, di Indonesia sendiri pengguna ponsel pintar mencapai 63,3 % di tahun 2019 dan di tahun ini mencapai 70,1% (Databoks). Itu semua artinya 9 dari 10 orang di Indonesia menggunakan ponsel pintar. Katanya kurang keren di zaman modern seperti saat ini tidak memiliki smartphone, sudah menjadi barang wajib bagi masyarakat. Barang canggih ini dapat membantu orang-orang di berbagai hal, mulai dari pekerjaan sampai menjadi sarana hiburan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam waktu 24 jam, lebih dari setengahnya dihabiskan untuk bermain ponsel. Dapat dilihat ponsel telah memunculkan gaya hidup baru menggantikan yang lama karena dianggap sudah kuno atau ketinggalan zaman.

            Penggunanya sendiri sangat beragam, mulai dari anak muda, dewasa sampai yang sudah tua. Dulu hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki ponsel, sekarang semua kalangan sudah memilikinya. Bahkan anak sekolah dasar sekarang sudah memiliki ponselnya sendiri, dengan fitur yang lebih canggih dan lebih asik sendiri bermain dengan ponselnya daripada temannya. Berbeda dengan anak sekolah dasar pra-ponsel dulu yang lebih senang bersama teman dan bermain bersama, itu semua sangat mengasikan sebelum ponsel menyerang. Namun apakan penggunaan smartphone di kalangan anak-anak sudah tepat? Melihat penggunaannya didominasi untuk bermain game secara online.

            Game sangat mempengaruhi kehidupan sekarang, mayoritas yang sering bermain game diisi oleh kaum Adam. Namun ada juga dari kaum Hawa yang suka bermain game, tetapi sangat jarang. Fanatismeterhadap game juga terjadi dalam masyarakat, banyak anak-anak yang gila dengan game. Hampir sebagian waktunya dihabiskan dengan main game, terutamanya game online. Sempat muncul istilah “Hp Miring” yang ditunjukan kepada para maniak gim. Karena saat bermain game memiringkan ponselnya untuk bermain. Game yang sedang eksis seperti Mobile Legends, PUBG dan Free Fire, istilah Mabar dan Push Rank menjadi kode khusus dalam ajakan untuk bermain.

Ayo Mabar bro, Push Rank!

            Anak-anak sekarang lebih jarang keluar rumah, lebih memilih stay home dari pada keluar untuk bermain bersama kawannya. Keluar mungkin hanya untuk mencari sinyal karena kadang di rumah sinyal buruk.  Ada juga yang keluar untuk nongkrong di kedai wifi hanya untuk bermain gim saja. Jika dulu harus membayar untuk bermain PlayStation di rental, sekarang hanya perlu membayar akses wifi-an saja sudah dapat bermain gim yang tentunya tidak perlu mengantri seperti saat di rental PS. Game online tersebut sudah terinstal dengan mudah di perangkat android di ponsel masing-masing.

Perpindahan Era

            Sebelum kehadiran game online, rental PS sangat diminati oleh anak muda pada zamannya. Hampir setiap sore atau selepas pulang sekolah berkumpul hanya untuk bermain PS bersama, bahkan seharian saat libur sekolah. Jika dulu lupa waktu karena keasikan PS-an, sekarang sampai lupa mengangkat kepala karena bermain ponsel.  Dulu orang tua marah karena anak bermain di luar rumah terus, sekarang malah orang tua menyuruh anaknya untuk bermain ke luar karena terlalu asik bermain gadget di rumah. Sudah seperti dunia terbalik. Game online yang hadir di dalam setiap ponsel anak-anak zaman segarang telah menggantikan era di mana PS berjaya. Anak-anak lebih memilih bermain game online, karena hampir semua anak mempunyai ponsel walau sebenarnya belum cukup umur untuk memilikinya. Keberadaan PS sekarang sudah jarang terlihat, akibat peminatnya yang berkurang. Atau mungkin sekarang PlayStation hanya untuk kalangan atas saja, melihat perkembangannya yang semakin bagus dan harganya yang semakin melangit. Sehingga sekarang PS lebih eksis di kalangan remaja dan dewasa.

            Selain lupa akan waktu karena bermain ponsel, dampak akibat terlalu sering bermain ponsel masih banyak. Mulai dari kesehatan fisik seperti yang tampak jelas ialah kerusakan mata akibat terlalu lama menatap layar ponsel, bahkan obesitas karena kurang bergerak atau olahraga dan memilih rebahan dengan bermain ponsel. Masalah psikis juga mengintai orang yang kecanduan bermain ponsel, mulai dari cepat emosi, mudah stress, kurang bersosialisasi dan menjadi individualis. Semua itu dapat terjadi kepada anak-anak yang kecanduan ponsel.

            Sekarang memang dapat dikatakan ponsel telah menjajah kehidupan manusia, yang menjadikan manusia seakan menjadi budak dari kemajuan teknologi. Kurang seimbangnya penggunaan ponsel dalam keseharian menjadi salah satu bentuk kesalahan dalam pemanfaatan ponsel pintar. Penggunaan yang berlebihan dapat merusak kesehatan tubuh, baik fisik maupun psikis. Dalam menggunakan alat canggih tersebut porsi penggunaannya harus seimbang, dengan memandang kebutuhan yang kita perlukan. Bukan malah menggunakan secara berlebihan untuk suatu hal yang kurang manfaat. Apa lagi saat anak-anak yang menggunkannya, dengan kontrol diri yang masih kurang dalam memanfaatkan ponsel. Lebih bahaya lagi jika mereka menyalahgunakan apa yang ada di dalam ponsel tersebut. Pembatasan usia dalam menentukan pengguna ponsel sangatlah diperlukan, bukan malah sejak kecil sudah diberikan sebagai sarana bermain. Mungkin maksudnya bagus untuk mengenalkan teknologi sejak dini, namun harus diperhatikan juga resiko yang terjadi.

Ponsel bentuk kemajuan, jadi manfaatkanlah!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>