Berita

Pementasan Monolog Lakon “Cermin” Pesan Hidup Atas Masalah

Penampilan musikalisasi puisi dalam pembukaan monolog lakon "Cermin" (15/8) Foto by Daniel Alif (LPM Al-Mizan)

lpmalmizan.com – Minggu sore Teater Zenith telah menyuguhkan pementasan monolog lakon cermin yang digelar di Jagad Kopi Buaran. Selain menjadi pertunjukan hiburan, banyak pesan yang dipersembahkan menjadi cerminan kehidupan atas masalah seseorang. (15/8) Pementasan tersebut mendapatkan sambutan baik dari penonton, meskipun dipertontonkan secara terbatas. Hal ini terlihat dari pelaksanaan acara yang ramai dihadiri oleh para penonton, baik dari IAIN Pekalongan maupun dari mahasiswa kampus lain, salah satunya seperti UNIKAL.

“Tolong cahaya, tolong saya takut gelap…”

Dalam ruangan yang gelap teriakan itu memulai pementasan monolog, seorang lakon muncul dari belakang penonton. Lakon monolog ini mengisahkan tentang seorang pria yang sangat mencintai istrinya yang bernama Suni “Su”. Dia menceritakan masalahnya yang sudah terpendam, Su sendiri adalah seorang wanita pekerja seksual yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang, kehidupan rumah tangga antara pria ini dan Su selalu tidak harmonis. Lantartan istrinya selalu menuntut banyak hal, padahal pria ini selalu sabar dalam menghadapi sikap istrinya yang kerap kali menyakiti hatinya. Pria ini meminta kepada Su untuk hidup dan bekerja yang biasa saja, akan tetapi Su menolak dan tidak memperdulikan suaminya.

Bertahun-tahun pria ini bertahan dan bersabar, ia selalu memendam segala rasa sakitnya sendirian, ia tidak pernah berani untuk melakukan apapun. Meski hatinya selalu tercabik-cabik dengan sikap Su yang semaunya sendiri. Pria ini dan Su dikaruniai 3 orang anak, tapi pria ini sangat yakin, bahwa mereka bukanlah anaknya. Apalagi anak yang ketiga rambutnya keriting, kulitnya hitam, ciri-ciri itu sama sekali tidak mirip dengannya. Pria ini selalu menelan rasa pahitnya sendirian, ia masih tetap saja mau bersabar selama ini, tak masalah jika Su bekerja sebagai pekerja seksual.

Hingga pada akhirnya malam itu suami Su marah besar, dan sudah tidak mampu lagi untuk membendung rasa kekecewaanya. Mata hatinya sudah tertutup dan ia menjadi sangat menakutkan seperti singa yang siap menghabisi apapun di depannya. Hingga malam itu ia membunuh istrinya Su dan anak-anak mereka, beserta semua selingkuhannya Su. Suami Su menjadi sangat brutal hingga akhirnya ia kehilangan segalanya. Masyarakat pun menjauhinya karena ia adalah seorang pembunuh. Disinilah tempat terakhir dirinya bersinggah, hukuman mati padanya telah dijatuhkan oleh keadilan. Ia kehilangan jati dirinya dan kehilangan kewarasannya, semuanya terasa gelap dihidupnya sekarang. Karena yang ia butuhkan hanyalah cahaya, akan tetapi semuanya sudah terlambat, sebab cahaya sudah habis termakan waktu.

Muhammad Irzad Arkan sang lakon dalam pementasan monolog ini menceritakan filosofis ceritanya. “Cermin itu kan yang bisa kita lihat diri kita sendiri, nah dalam naskah ini, kita ingin melihat hal apa saja yang ada dalam diri kita sendiri, seperti halnya amarah yang dipendam terus-menerus itu kan bisa berakibat fatal.” Tuturnya sesusai pementasan.

Di sisi lain Aqil Muhtar selaku pimipinan produksi menceritakan juga proses persiapan yang memakan waktu 3-4 bulan. “Sudah lama sih persiapannya, tiga empat bulanan,” ujarnya.

Muhammad Mufidul Ulum, sutradara juga menyampaikan dalam proses ini terdapat kendala yang dilalui seperti kurangnya latihan. ”Untuk prosesi kita memilki kendala pada umunya, yaitu seperti kurang tepat waktu pada latihan, apalagi untuk acaranya sendiri juga dimasa PPKM seperti ini, meskipun kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun tidak seperti sebelum-sebelumnya.” Tandasnya.

Reporter : Nazira Laela Nasta, Daniel Alif

Editor : Daniel Alif

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>