Resensi, Sastra

Mengenang Masa Menyisakan Cerita

Pict : Pinterest

Judul Film        : Bebas                                                                                   

Pemain              : Agatha Pricilla, Baskara Mahendra, Baim Wong, Indy Barends, Salvita Decorte, Lutesha.

Sutradara         :  Riri Riza

Skenario           : Kang Hyoung-Chul (Penulis asli) , Ginatri S. Noer, Mira Lesmana

Produser           : Mira Lesmana

Ilustrasi             : Instagram milesfilms

Tahun               : 2019

Pict : MilesFilms

Setiap orang pasti memiliki  kenangan berharga ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satunya adalah terjalinnya persahabatan. Bersama sahabat banyak momen yang sudah dilalui baik itu susah, senang, sampai kegilaan yang pernah dilakukan. Sayangnya, momen-momen tersebut tidak dapat diulang dan hanya menjadi kenangan. Mungkin dengan bernostalgia dapat menjadi obat untuk mengingat kembali masa-masa SMA dulu. Misalnya bernostalgia dengan menonton sebuah film bergenre drama komedi musikal garapan Riri Riza yang berjudul Bebas.

Film Bebas dibintangi sejumlah artis ternama seperti Marsha Timothy, Susan Bachtiar, Indy Barends, Baim Wong, Widi Mulia serta Salvita Decorte. Film ini juga diramaikan oleh bintang muda seperti Maizura, Sheryl Sheinafia, Agatha Priscilla, Zulfa Maharani, Lutesha serta Baskara Mahendra. Bebas merupakan film yang diproduksi oleh Miles Films, CJ Entertainment bersama Ideosource Entertainment dan BASE Entertainment. Bebas adalah film drama komedi musikal Indonesia 2019 yang merupakan adaptasi bebas dari film korea berjudul Sunny yang beredar pada tahun 2011. Film ini merupakan bentuk adaptasi ketiga setelah versi Jepang (Sunny: Strong Mind Strong Love) dan Vietnam (Go Go Sisters), keduanya tayang pada tahun 2018.

Film yang berdurasi 120 menit ini mengisahkan tentang persahabatan yang menggunakan alur maju-mundur  (masa kini dan masa lampau) pada jalan ceritanya. Kisah bermula dari masa kini di mana  tokoh Vina merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya sebagai ibu rumah tangga yang monoton, hanya melayani suami dan anaknya di rumah. Sampai suatu hari, tokoh Vina tanpa sengaja bertemu dengan salah satu teman SMA-nya di rumah sakit, namanya Krisdayanti. Mereka bernostalgia meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan karena sakit yang dialami oleh tokoh Kris. Diceritakan bahwa umur tokoh Kris tidak lama lagi, dan tokoh Kris meminta tolong pada tokoh Vina untuk mengumpulkan kembali geng mereka sewaktu SMA dulu, yaitu geng Bebas.

Perjalanan tokoh Vina untuk mengumpulkan anggota geng Bebas dimulai dari pertemuan dengan tokoh Jessica (diperankan oleh Indy Barends) yang bekerja sebagai agen asuransi. Sembari mengenang masa lalu di mana tokoh Vina yang tergabung dalam geng Bebas yang ketika muda terdiri dari Kris (diperankan Sheryl Sheinafia), Jessica (diperankan Agatha Pricilla), Suci (dipernkan Lutesha), Gina (diperankan Zulfa Maharani), dan satu-satunya anggota laki-laki yaitu Jojo (diperankan Baskara Mahendra).

Ingatan tokoh Vina, Kris, dan Jessica  akan sejarah perjalanan geng Bebas melalui masa SMA berjalan beriringan demi mencari tahu keberadaan tokoh Jojo dan Gina. Namun, mereka kesulitan untuk mencari tokoh Suci yang sejak perpisahan di SMA  tidak pernah terdengar kabarnya lagi.

Kelebihan dalam film ini adalah alur ceritanya membuat penasaran dengan arah klimaksnya. Penempatan setting waktu yang tepat yaitu pada tahun 1995-1996 terasa sekali didasarkan pada pemikiran bahwa periode tersebut adalah puncak dari kultur budaya pop remaja Indonesia sebelum mengalami krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998. Kemudian yang membuat menarik yaitu misteri dalam mencari masa lalu yang harus dipecahkan oleh tokoh Vina yaitu untuk mengumpulkan teman-teman dalam gengnya. Karakter Jojo yang diperankan oleh Baskara Mahendra (ketika muda) dan Baim Wong (ketika dewasa) memberikan kesegaran dan  warna yang berbeda akan optimisme dan kebebasan dalam hidup. Beberapa elemen yang dimasukkan juga sangat mendukung seperti keharuan saat reuni dengan sahabat lama, bullying di masa kini, serta elemen cinta, persahabatan, kekompakan dan pencarian jati diri di masa 90-an. Tokoh Gina dan Mira juga nampak menyisipkan gaya bicara dan budaya populer yang ada di era tersebut. Elemen lainnya terkait wardrobe, make up, penata artistik sudah bagus untuk ditampilkan di tahun 90-an.  Serta alunan musik-musik klasik tahun 90-an juga menambah kesan dan  nuansa nostalgia yang kuat.

Segala sesuatu tidaklah sempurna, pasti ada kekurangan di dalamnya. Sebagaimana dalam film ini, yaitu sinematografinya kurang ada getaran jadulnya. Kurangnya kesan dramatis ketika pertemuan tokoh Vina dewasa dengan tokoh Kris di rumah sakit yang terasa tidak logis, karena hanya dengan melihat dari belakang tokoh Kris sudah bisa mengenali tokoh Vina padahal sebelumnya tidak pernah bertemu sejak perpisahan di SMA. Kesan nostalgia dalam film ini akan   kurang dapat dirasakan oleh penonton usia remaja dibawah 20 tahun, namun sangat dapat dirasakan kesannya oleh penonton usia 30 tahun ke atas.

Walau begitu, film ini cukup menghibur karena adanya hubungan persahabatan yang erat dan menyentuh jiwa. Sehingga menimbulkan kehangatan hati dan rasa rindu kepada sosok sahabat. Adanya suguhan realita yang ingin ditunjukkan seiringan dengan pesan-pesan mendalam tentang persahabatan, cinta dan kebebasan berekspresi serta pencarian jati diri. Membuat penonton dapat merasakan betapa dekatnya kisah dalam film ini dengan kehidupan nyata.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>