Cerpen, Sastra

Larut Malam

ilustrasi rumahsakit, dimalam itu. Sumber gambar : geograph

Aku menemani Rika, seorang perempuan paruh baya yang tergeletak lemas di ranjang rumah sakit. Ia dirawat di ruangan teratai 3b. Di ruangan ini ada 5 tempat tidur, namun hanya 3 ranjang saja yang terisi pasien. Semua pasien merupakan penderita sakit paru-paru seperti Rika. Suara batuk sering terdengar setiap waktu.

Saat malam datang, tepatnya pukul 23:55 aku merasa jenuh di dalam ruangan. Orang-orang tertidur pulas, kecuali Amir anak dari salah satu pasien yang bernama Srinah. Lantas, aku berpesan kepadanya “Mas, aku nitip Rika, jika ia bangun sampaikan kalau aku sedang keluar untuk mencari angin. Oh iya, jika Rika bangun dan mencariku suruh dia untuk menelpon saja. Terimakasih mas,” setelah berpesan aku pun keluar.

Dengan langkah yang pelan aku menuju pintu ruangan. Tepat di depan pintu, tangan kanan memegang gagang pintu serta membukanya. Tak terlihat satu orang pun di luar. Semua ruangan telah sepi. Langkah demi langkah berjalan secara pelan. Sampailah di depan ruang resepsionis juga tidak ada petugas disana.

Melewati lorong, “Teplek, teplek, teplek” suara sandalku. Kursi-kursi tanpa orang duduk, buat hati tambah was-was ketakutan. Lalu, menaiki anak tangga. Belok kiri untuk melewati lorong kembali. Lorong tersebut gelap tanpa penerangan. Terdapat seorang wanita tua tertidur pulas di kursi penunggu, depan ruang operasi.

Setelah itu, kembali berjalan menuju pintu utama. “Mak glodak” suara itu terdengar jelas dari belakangku. Hati dan pikiran pun mak les, seakan jantung mau copot. Tiba-tiba seekor kucing melompat dari belakang tepat di depanku. Dalam hati berbicara sambil mengelus dada “Ternyata kucing, syukurlah”.

Belum mengayunkan kaki, ada suara sandal orang berjalan dari belakang. Namun, suara ini seperti orang lari kencang.

“Plek, plek, plek, plek”

Suaranya semakin jelas, aku pun masih terdiam termangu. Jantung berdetak kencang. Suara semakin dekat. Terus mendekat.

“Ya Allah. Lindungi hamba-Mu ini,” mulut dan hati terus berkomat-kamit melantunkan doa.

Suara terdengar tepat di belakangku. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Tidak ada orang. Detak jantung terasa semakin kencang.

Aku mencoba untuk tenang dan kembali melangkah. Baru sepuluh langkah, wanita berambut panjang berpakaian kedodoran mendahuluiku dari belakang. Jantung kembali berdebar kencang serta bergumam.

“Ast… Ast…. Ast… Astaghfirullah,

Aku kembali termangu. Wanita itu berjalan dengan pelan. Aku tetap diam sambil komat-kamit membaca surah yang aku hafal. Kelopak mata ikut menutupi bola mata.

Qul a’udzu birobbil Falaq,… Malikinas… Wattini wasyaitun…

Sedikit demi sedikit mata kembali membuka. Mulut tak henti-hentinya komat-kamit. “Wah, wanita itu kemana?” Tanyaku dalam hati.

Kencang kakiku berjalan. Hingga sampai di depan suatu ruangan. Namun, tak disangka ketika membuka pintu, ternyata ruang jenazah. Tambah gemetar tubuh ini. Komat-kamit lebih kencang. Kembali membuka pintu untuk keluar. Wanita tadi tengah duduk di luar tepat di kursi depanku. Kepalanya tertunduk, tangan dan kaki tertutup baju yang gombrang.

Lantas, aku berlari kencang. “Apakah tadi itu setan?” Tanya kembali dalam hati sambil tidak percaya. Aku berhenti di sebuah lorong yang cukup jauh dari kamar jenazah dan wanita itu. Nafasku terengah membayangkan wanita rambut panjang itu. Tak lama setelah aku mencoba mengatur nafasku, tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku. Tubuhku kembali gemetar. Rasanya aku ingin kencing di celana. Aku mencoba untuk menengok ke belakang. Ternyata satpam lagi keliling “Huft, syukurlah.” Satpam itu heran melihat saya berlari kencang.

“Kenapa mas, kok lari-lari seperti lihat setan?” Tanya Satpam sambil menyenteri ruangan di samping.

“Tidak Pak, Ndak papa,” jawabku, sambil bertanya-tanya sendiri perihal wanita tadi.

“Ya, sudah mas. Saya duluan,” saut satpam kembali sambil berjalan, melanjutkan keliling.

Aku kembali jalan dengan rasa ketakutan. Pintu utama sudah terlihat, artinya dekat pula tujuanku, duduk di pinggir jalan sambil menghirup udara segar. Namun, ternyata ada satu lorong lagi untuk dilewati. Lorong ini lebih panjang daripada yang sudah terlewati. Lebih gelap. Dan pastinya lebih membuat merinding.

Aku mulai melangkah memasuki lorong ini. Dengan pelan memijakkan kaki, kepala menghadap ke kanan dan ke kiri, mata meneliti setiap sudut. Terus berjalan. Sebaris kursi penunggu berada di kanan saya tiba-tiba bergeser. Kursi roda berjalan tanpa pendorong dan penumpang. Aku termangu. Berkomat-kamit kembali, semoga dia tidak muncul lagi.

Bukan hanya itu saja, pintu ruang anggrek di sebelah kiri tiba-tiba terbuka. Pria tua beramput ikal tipis keluar, ia mendekatiku. Wajahnya begitu pucat, tatapannya nampak kosong. Terus mendekat kepadaku. Kaki kanannya terseret-seret. Celanaku terasa hangat, air mengalir ke lantai dari celana.

Belum usai, wanita tadi nampak dari kejauhan. Rambut panjang serta putih begitu bersinar, sehingga lorong rada terang. Ia juga mendekatiku. Wajahnya kini berubah, dipenuhi oleh banyak darah. Perutnya terdapat bercak darah. Tangannya terangkat tegak ke depan, seakan siap menikam. Mulutnya membuka, giginya nampak hitam serta tajam. Kurang tiga langkah ia sampai di depanku.

Pria dengan kaki terseret pun tinggal dua langkah sampai dihadapanku. Perutnya terus mengeluarkan belatung. Kupingnya berdarah-darah. Mata kanannya tak berwujud mata. Mereka dihadapanku. Wanita itu mencekikku dari depan, sedangkan pria itu menarik tangan kananku. Sedangkan aku hanya berkomat-kamit dan gemetar.

Namun tiba-tiba, ada yang menupuk pundakku lagi. Tak lama aku menoleh ke belakang. “Aaaaaaaaaarhhhhhg……aaarrhhhhgg….arhhhhhhhgg,” aku tak bisa menahan teriak.

Editor : Aisa Khumairoh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>