Esai, Unek-Unek

Seruan Aksi Pedagang di Kala PPKM, Apakah Menarik Minat?

Mobil Satuan Polisi Pamong Praja Pekalongan sedang berjaga di sekitar Pasar Induk Banyurip. Kamis Malam, (15/7) Foto by Shello Bondowoso (Crew LPM Al-Mizan)

Wes ruwet, tulong ojo digawe ruwet maneh. Kami lelah !!!

Itulah tagline dari pamflet yang mengajak untuk Aksi Demonstrasi. Di dalam pamflet tersebut tertulis jelas PEKALONGAN MELAWAN; Seruan Aksi Pedagang. Juga dituliskan titik kumpul berada di pasar Banyurip dan akan menuju ke Gedung DPR, entah gedung DPR sebelah mana yang akan dituju. Rangkaian acara aksi tersebut berisi do’a & sholawat bersama. Tapi setelah saya telusuri ternyata seruan AKSI tersebut ternyata HOAX. “Itu sebenarnya hoax, terus terang pamfletnya saja tidak ada tanggalnya dan juga tujuannya ke DPR atau DPRD. Kalau DPR berarti Jakarta kalau DPRD berarti Pekalongan.” Kata Faizin selaku Ketua RT Banyurip.

Pamflet itu sebelumnya telah membuat sebagian warga sekitar Pekalongan antusias untuk mengikuti aksi tersebut dibuktikan dengan adanya kerumunan yang berada di sekitar Pasar Banyurip. Hal ini karena imbas dengan diberlakukannya aturan PPKM darurat pedagang-pedagang menjadi melarat.

Sebagai upaya antisipatif terhadap seruan aksi tersebut aparat gabungan yang terdiri dari TNI, POLRI, SATPOL PP diterjunkan ke lokasi Pasar Banyurip. Bahkan dari pihak kejaksaan dan anggota DPR pun hadir untuk memantau aksi tersebut. “Kita gabungan ada dari BABINSA, SATPOL PP, Kepolisian, Kejaksaan, Anggota Dewan juga ada, tapi ternyata semua itu (seruan aksi) hanya hoax saja.” Ungkap Sutrisno selaku Kasat Trantib Wilayah Banyurip.

Aparat Gabungan tersebut datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan aksi yakni pukul 20.00 WIB, aparat datang pukul 19.00 WIB. Hal ini dilakukan agar mengantisipasi terjadinya aksi tersebut yang melibatkan kerumunan banyak orang.

Saat kupandang sekeliling Pasar Banyurip beberapa orang sedang berkerumun untuk menyaksikan keramaian akibat datangnya aparat gabungan tersebut di Pasar Banyurip. Layaknya menyaksikan pertunjukkan wayang, masyarakat tersebut antusias sekali berada di pinggir jalan untuk menyaksikannya. Setelah aparat tersebut mengecek lokasi dan dengan hasil tidak ada aksi tersebut, maka pada pukul 21.00 WIB aparat gabungan meninggalkan lokasi karena terkonfirmasi tak ada aksi.

Selang beberapa menit setelah aparat gabungan itu pergi dari pasar Banyurip. Keributan mulai terjadi saat  petugas polisi patroli PPKM Darurat. Petugas itu mulanya jinak-jinak merpati membubarkan warga yang berkerumun disekitar pasar. Namun, ada sebagian warga yang memprotes kebijakan PPKM yang intinya mereka kesulitan ekonomi akibat aturan PPKM itu. Seperti para pedagang yang  harus tutup dan pekerja yang dirumahkan, mereka mengeluhkan hal yang sama, yakni kesulitan makan & mendapatkan uang, bantuan dari pemerintah pun tak mereka terima.

Cukup lama percekcokan itu terjadi, bagai anak yang merengek nangis tak diberi makan orangtuanya. Masyarakat tersebut terus mendebat petugas polisi tersebut. Sampai akhirnya polisi tersebut memaksa mereka dengan cara menggiring masuk ke gang rumah mereka, seperti menggiring bebek untuk kembali masuk ke kandangnya. Akhirnya masyarakat tersebut patuh dan masuk ke rumah masing-masing.

Editor : Daniel Alif

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>