Puisi, Sastra

Ayat-ayat yang Kupanggil “Pus”

Bunyi ngeong yang indah tanpa resah

Menembus relung malam, menusuk dalam

Menggiring laron ke jalan cahaya

Menjelma sebagai selendang sutra hijau

Yang melilit tubuh dan kalbu rumput-rumput kafir

“Pus,” kusabda kau menjadi keliaran

Ubahlah senyummu jadi seringai

Anggap saja,

Kebenaran itu sepotong daging gemuk bagimu,

Mangsalah!

Lalu

Muntahkanlah menjadi ayat-ayat munafik

Lalu galilah lubang di pinggir jalan

Muntahkanlah di lubang itu

Agar,

Siapa saja yang menciumnya

Berbalik arah, dari jalan kebenaran

“Pus.”

Ternyata kau adalah rekayasa

Jinak liarmu adalah peran majikanmu

Harusnya kau adalah pedoman dan rahmat

Bukan alat pembelokan atas nama ayat

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>