Artikel

Terpenjara Gengsi

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan kata gengsi. Bahkan mungkin ada yang menjadikan gengsi sebagai gaya hidup. Lalu sebenarnya, apa sih arti dari kata gengsi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gengsi berarti kehormatan dan pengaruh, harga diri, martabat. Selain itu gengsi bisa diartikan pula sebagai prilaku malu atau dalam trennya biasa disebut sebagai tindakan untuk jaga image. Seperti contohnya ketika kita melakukan kesalahan kepada orang lain, kita tau sebenarnya memang kita berada di posisi salah tetapi karena ingin menjaga image dan tidak ingin disebut salah, maka kita memilih untuk tidak meminta maaf terlebih dulu dan menunggu orang lain untuk memulainya. Dari hal tersebut bisa kita simpulkan bahwa sikap gengsi adalah sikap yang tidak mau mengakui hal yang sebenarnya terjadi.

Sikap gengsi dapat berpengaruh dalam membentuk pola pikir kita jika kita menerapkannya secara terus menerus. Sekali dua kali kita menerapkan sikap gengsi, bisa jadi seterusnya kita akan selalu menanamkan dalam diri kita sikap gengsi tersebut. Padahal gengsi merupakan sikap egois yang dimiliki manusia. Seperti contoh pada paragraf pertama, hanya demi kepuasan diri sendiri agar kita tidak dianggap rendah oleh orang lain, kita lebih memiliih menunggu action dari orang lain yang dengan suka relanya menggantikan posisi kita.

Padahal gengsi memiliki akibat negatif dalam hidup, meskipun porsinya bisa sedikit atau banyak. Memang rasa gengsi terkadang membuat kita dilema dan terasa nikmat menjalaninya.  Kita selalu ingin berada di posisi teratas dan selalu ingin tampil sempurna di depan semua orang. Misalnya dengan selalu gonta-ganti gawai, selalu memakai pakaian ber-merk, punya barang bagus serta selalu tampil cantik dan menarik. Tidak peduli di balik kesempurnaan tersebut kita merasa menderita karena menuruti tuntutan-tuntutan itu dan terlalu memaksakan diri tampil wah dengan hal yang sebenarnya belum mampu kita miliki. Kita terpenjara dalam gengsi yang entah kapan kita bisa bebas darinya dan menjadi diri kita sendiri. Memang kita tidak bisa serta-merta cuek dengan pendapat orang lain, tetapi dengan selalu mendengarkan dan memikirkan ocehan mereka justru hanya kerugian yang kita dapat, karena apa yang kita anggap benar belum tentu menurut orang lain benar.

Sikap gengsi juga berakibat timbulnya kelas-kelas sosial di lingkungan kita. Kemudian kesempatan ini dijadikan peluang bagi si “gengsi” untuk menunjukkan eksistensinya, hal ini lah yang juga bisa mendorong orang lain untuk saling pamer. Ini menunjukkan sikap gengsi memberikan pengaruh luar biasa di lingkungan.

Sebagai penerus harapan bangsa seharusnya kita tidak boleh terpenjara dalam hal apapun, termasuk karena sikap gengsi. Begitu banyak akibat negatif dan kerugian yang ditimbulkan karena prilaku gengsi seperti kita tidak bisa menjadi diri sendiri dan kita terlalu sibuk dengan pendapat orang lain yang menilai kita buruk sehingga hal-hal yang seharusnya lebih penting kita urusi justru terabaikan. Hidup tak melulu soal omongan orang lain bukan? Bersikap jujur lebih baik dan kita tidak perlu repot-repot membuat skenario dengan peran-peran kebohongan lebih banyak lagi. Hiduplah apa adanya, tidak usah gengsi toh kita makan bukan dari uang mereka.

One comment

  1. 1

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>