Resensi, Sastra

Pengalaman Bertubuh Perempuan (REVIEW Muslimah yang Diperdebatkan)

20190529_013439_0000

Mengapa perempuan selalu salah? Mengapa ia tak boleh bicara? Mengapa perempuan harus menjadi pihak yang paling ikhlas, paling sabar, dan paling tak boleh melawan? Itu adalah satu dari secuil pertanyaan penulis yang tersemat dalam artikel dengan judul “Tubuh Perempuan dan Penghormatan Kepada Hidup” .

@kalis.mardiasih mulai dikenal publik ketika tulisannya yang berjudul “Sebuah Curhat untuk Girlband Hijab Syar’i” terbit di situs @mojokdotco dan dibagikan lebih dari 17 ribu kali. Sejak saat itu Kalis rajin menulis dan tulisannya tak pernah bergeser dari isu keperempuanan.

Narasi yang ditulis Kalis dalam buku ini berfokus kepada tubuh, kerudung, kemanusiaan, & religiusitas perempuan

Fun Fact
1. Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau dapat disebut esai yang tersebar di berbagai media online seperti Mojok.co, Islampos, detik.com, DW Indonesia (kantor berita Jerman).

2. Buku yang saya pegang beli sekitar tgl 20 Mei, dalam identitas buku rupanya sudah cetakan ketiga. Sejak terbit April 2019 silam, dan Mei sudah menggondol dua kali cetak. Dengan asumsi setiap kali cetak sebanyak 3000 eksemplar dapat dikatakan sudah ada 9000 eksemplar di pasaran. Itu tergolong sedikit dibanding keterbacaan tulisan-tulisannya yang diatas 5000 penayangan.

3. Pada 19 Mei, buku ini bersama Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur karya M. Iqbal dipotret Eka Kurniawan dlm laman Facebooknya. Bagi Eka, orang-orang hebat layak dipromosikan. Peraih Prince Claus Laureate 2018 itu juga menyebut dengan menjamurnya media daring melahirkan kegembiraan yaitu satu generasi penulis yang tak hanya kreatif dan segar, tapi juga berani. Sosok yg digadang-gadang Ben Anderson sebagai the Next Pramoedya Ananta Toer itu menambahkan optimismenya dengan generasi intelektual jg tumbuh, maju tak gentar di tengah kebebalan yang menyedihkan dimana-mana. Dalam kalimat pamungkasnya, Eka menyebut Kalis sbg penulis opini publik yang ia sukai dan ikuti.

***

Isu perempuan selalu menarik untuk bersolek dari yang terdahulu pemikiran Kartini hingga yang kontemporer seperti Kalis Mardiasih. Selain karena pengaruh kapitalisasi yang bisa dahsyat namun juga karena hukum Islam yang tidak mengikat dalam hal tertentu menjadikan kontroversi tersendiri.

Kapitalisasi ini dapat dipicu seperti tren mode yang acapkali mudah diikuti perempuan, dari apa yang dipakai memang diperlukan hingga apa yang untuk melengkapi balutan keindahan perempuan.

Buku ini berdasarkan artikel yang telah tayang di Mojok dan beberapa media online lainnya. Sehingga gaya tulisannya pun, menggelitik dan penuh kejutan dalam menyampaikan setiap pemikiran untuk menyanggah atau membalikkan keadaan dari peristiwa atau amatan penulis yang menjadi sasaran kritik.

Dalam setiap paragraf pun seolah padat dan tak ada ruang untuk kata tidak berfaedah. Ini antara proses panjang berpikir, keluasan wawasan, spontanitas dan gaya blak-blakkan sekaligus penuh canda bercampur kejengkelan menjadi formula yang selalu muncul dalam tulisan Kalis Mardiasih.

Tak ayal buku ini cepat menuai respon positif pembaca, dengan waktu dalam dua bulan saja telah meraup tiga kali cetak ulang. Padahal jika ditengok secara harga jual tergolong lumayan mahal. Bila dibandingkan dengan penerbit sebelah misalnya. Buku semacam ini dipatok dengan harga 69.000 yang secara nilai ekonomi artinya cukup berjarak.

Namun, bisa dipahami sebagai buku pemikiran cum kumpulan esai meski telah pernah tayang di media online. Daya jual atau nilai marketing nama Kalis Mardiasih memang telah moncer apalagi tema yang dihidangkan benar-benar selalu aktual dan relevan dengan kondisi perempuan.

Bukan tidak mungkin harga jual buku ini justru dapat dikatakan lebih murah ketimbang suatu instansi mengundang penulis dan menjadi pembicara. Padahal isinya sudah tertuang disini di buku ini. Jauh lebih murah bukan?

***

Masa kecil sebagian orang barangkali sama dengan Kalis, waktunya ngaji ya berpakaian sebagaimana mestinya, berjilbab dan berpakaian muslimah yang menutupi aurat. Tapi begitu ngaji selesai ya, kembali semula tanpa jilbab dan kadang hanya sempakan saat hujan-hujanan bersama kawan.

Beranjak ke masa SMP dan SMA Kalis masih tetap berjilbab, meski belum diwajibkan. Tapi sekedar memenuhi permintaan Bapaknya. Sambil aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari Pramuka, OSIS dan mengikuti berbagai perlombaan termasuk mendongeng bahasa jawa yang berbau kearifan lokal.

Sambil bernada sinis, Kalis menduga anak ustadz zaman sekarang barangkali tak diperbolehkan membaur dan berkegiatan dengan lawan jenis. Apalagi perempuan mendongeng dan menembang bahasa jawa. ‘Laki-laki mana yang mau menikahi perempuan yang suka ikhtilat begitu?’ tuturnya.

Beralih ke masa kuliah di Solo, menarik dirinya dalam dikotomi jilbab syar’i dan yang tidak syar’i. Sampai-sampai ia mengikuti model dan bahan jilbabnya ketika belajar mengaji dengan siapa. Tak jarang juga ia dijejali buku tentang nikah muda dan diharamkan baca buku filsafat.

Kegusarannya semakin bertambah kala seorang temannya melepas jilbab atas kemauannya sendiri dengan alasan ingin mengenal dirinya dari awal justru dihujat oleh sekitarnya. Bagi Kalis, melepas jilbab bukan berarti murtad. Karena seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.

Topik-topik mengenai kerudung pun masih terus mewarnai pada halaman-halaman berikutnya. Seperti saat Rina Nose dihujat netizen karena melepas jilbab. Bagi Kalis, berproses mendekat kepada Tuhan selangkah demi selangkah seiring pekerjaan yang kita geluti juga aktivitas yang kita cintai saat ini, tanpa harus meninggalkannya. Siapa tahu kiprah kita saat ini adalah yang paling membawa manfaat dan keberkahan untuk diri sendiri, keluarga, atau publik luas?

Dalam artikel sebanyak 26 judul ini, Kalis juga menyoroti hijrah sebagai dalih dari Islamisasi perabot perempuan, seperti kerudung halal. Sehingga ia pun menawarkan adanya sempak halal. Apalagi adanya sekolah islami, perumahan islami sampai daycare islami. Belakangan, terekspos bahwa gejala mengeksklusifkan simbol agama bersumber dari gerakan-gerakan yang mengarahkan Islam kepada klaim kebenaran tunggal dan juga gejala kapitalisme global yang turut mempengaruhi pasar kelas menengah muslim.

Dalam buku ini yang menarik bagi saya, berulangkali penegasan perempuan di lingkungan domestik seperti yang termaktub dalam kitab Syekh Nawawi Banten, sampai Panca Dharma Wanita ala orde baru. Bahwa wanita menjadi warga kelas dua, baik secara lingkungan desa menjaga sawah, harta benda maupun kota dengan industri menjadi buruh dengan bayaran separuh dari laki-laki. Dan itu terjadi di lingkungan Pekalongan, adanya buruh batik yang memperoleh bayaran lebih sedikit dibanding laki-laki yang dipandang lebih bekerja keras dengan tenaganya dibalik mesin-mesin.

Padahal dibalik itu, tersimpan resiko bahwa laki-laki mesti menghasilkan secara nilai ekonomi. Bila menengok Surat At-Taubah tentang saling tolong menolong satu sama lain, menyuruh kebaikan, melarang kejahatan, mendirikan sholat, mengeluargkan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Kerjasama diantara perempuan dan laki-laki tentu dapat terjadi, dan itulah kenyataan yang kualami dalam keluargaku. Ibu mencari nafkah dan bapak mendidik, mengurus anak selama di rumah.

Buku ini ingin mendorong perempuan untuk berani bicara dan memberikan dukungan kepada suara perempuan yang seringkali gagal didengar. Perempuan, dengan pengalaman ketubuhan dan ingatan emosionalnya, selalu otentik dan lebih otoritatif untuk menyampaikan kebenaran. Karena kebenaran yang ia sampaikan bersumber dari realitas, langsung dari dialognya sendiri dengan Tuhan, dengan tubuh, dengan alam, dan dengan masyarakatnya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini :

  1. No One should be left behind, rangkul bersama, jangan ada satu perempuan pun yang kita biarkan berjuang sendirian (hlm. 180)
  2. Kitab Ta’limul Muta’alim yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam memilih guru, termasuk yang harus jelas sanad keilmuannya hingga ke Rasulullah saw. (hlm. 7)
  3. Percayalah, memakai simbol kesalehan, lalu berjualan oleh-oleh dengan label Islami bukanlah jalan hijrah satu-satunya. (hlm. 13)
  4. Apa enaknya menjadi sama jika Tuhan saja sengaja menciptakan manusia berbeda-beda? (hlm. 91)
  5. Di dalam Al-Qur’an, asal-usul kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama. Sebab, semua ayat yang berbicara mengenai model-model penciptaan manusia dalam proses reproduksi secara umum tidak mengkhususkan pada laki-laki semata dan tidak pula menafikan perempuan, baik model penciptaan dari unsur air, tanah maupun model yang sekarang kasat mata, yaitu penciptaan reproduksi biologis. (hlm. 173)
  6. Mengapa zaman yang menuntut perempuan bekerja, perempuan melawan pasangannya, dan perempuan meminta keadilan pada hak-haknya selalu saja dihalau dengan teks terlebih dahulu? Ujungnya potret perempuan yang melawan pun jatuh kepada stigma tidak mulia, lalu dihukumi haram, neraka, dan tidak bermoral. (hlm. 177)
  7. Dr. Nur Rofiah Bil. Uzm menjelaskan bahwa menjadikan perempuan sebagai topik diskusi berbeda dengan menjadikan perempuan sebagai metode berpikir atau perspektif. Dalam koridor kedua, sebuah kelompok atau institusi yang berisikan laki-laki maupun perempuan boleh berbicara apa saja soal pembangunan, politik, ekonomi, sampai sosial budaya, tapi melibatkan perspektif perempuan sebagai subjek ketika memutuskan sebuah kebijakan. (hlm. 179-180)
  8. Aku tak boleh berhenti belajar. Kehidupan antarmanusia sebagai warga dunia dipersatukan lewat ilmu pengetahuan. Perbedaan membutuhkan jembatan yang sama sekali bukan dalam bentuk peperangan. (hlm. 114)
  9. kita menantikan wajah jihad dan wajah muslimah yang berubah lebih menyenangkan di mesin pencari. (hlm. 127)
  10. “Anda bukan orang pertama yang membuat sakit saudara kandungmu. Sebetulnya, adakah kesopanan di dunia ini?” (hlm. 131)

Identitas Buku :

Judul               : Muslimah yang Diperdebatkan

Penulis            : Kalis Mardiasih

Penerbit          : Mojok

Tahun Terbit : Cetakan Ketiga, Mei 2019

Tebal               : xii + 202 Halaman

ISBN               : 978-602-1318-93-5

Harga            : Rp. 78.000

20190530_003432_0001

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

2. Follow akun instagram @atrahabibie dan @jualbukupekalongan

3. Follow akun twitter @fathisme009 atau add friend Atra Habibie di Facebook. Jangan lupa share dengan hestek GA #MuslimahyangDiperdebatkan #G30B #Giveaway30Buku dan mention akun diatas juga ajak 3 teman terbaikmu via instagram/facebook/twitter. (boleh semua atau pilih salahsatu aja ga masalah)

4. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

5. Jika kamu menjadi pemenang pastikan juga bersedia meresensi/review/ulas di instagram atau medsos lain, biar nanti kuposting disini juga karyamu. Jika kamu bingung cara meresensi bisa kamu pelajari via postingan cara dapet cuan dari koran. Hhe

6. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus tinggalkan nama, akun facebook/twitter/instagram, kota tinggal dan link share medsos Giveaway ini di kolom komentar.

Pertanyaannya adalah Kenapa kamu menginginkan buku Muslimah yang Diperdebatkan ini? Kamu bisa menceritakan pengalaman personal kamu sebagai muslimah atau jika kamu seorang laki-laki bagaimana kamu memandang perempuan. Mudah bukan? 😉

7. Ini tambahan aja sih, boleh dijawab atau nggak hihi. Apa yang membingungkanmu dari Giveaway ini dan Apa buku selanjutnya yang lagi kamu incer buat jadi hadiah kuis buku selanjutnya. Hhe

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku Muslimah yang Diperdebatkan terbitan Mojok ini. Hadiah akan dikirimkan langsung oleh saya. 😉

GA #MuslimahyangDiperdebatkan #G30B #Giveaway30Buku ini berlangsung seminggu saja: 30 Mei – 6 Juni 2019. Pemenang akan diumumkan tanggal 7 Juni 2019

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa…

#Giveaway30Buku #G30B #jualbukupekalongan #bukupekalongan #muslimahyangdiperdebatkan #kalismardiasih

Komentar