Puisi, Sastra

Tentang Pasir Karang

Foto by: Rafi Kamaludin

Kau bercerita tentang angin padaku dengan bahasa yang tak kumengerti, tapi entah dari mana rasa yang tak kau sampaikan malah kuterima dengan bahasaku sendiri, Kinala.

Izinkan aku bercerita tentang pasir, karang, dan pantainya, bentuk balasanku atas ceritamu tempo hari. Di sebelah utara pesisir Jawa, ada sebuah pantai biasa. Hanya sekadar lebih tertata rapi sejak Dinas Pariwisata sedang gencar menggalakkan progam kerjanya.

Jadi siapa bilang, sekarang pantai pesisir utara Jawa itu kotor? Buluk? Meski memang benar, sih. Didunia kita orang-orang menganggap suara terbanyak adalah suara Tuhan, Kinala. Suara mayoritas sebagai penentu benar salah.

Jadi ketika ada kasus orang jatuh di depan kelas pun, yang benar ya mereka yang tertawa, bodohnya yang ditertawakan.

Pantai pesisir utara Jawa memang tak sebagus pantai selatan Jawa, Kinala. Banyak mereka berbondong-bondong ke Jogja hanya untuk melihat pantainya. Tapi aku suka pantai ini, pantai pesisir utara Jawa.

Seperti yang sering kau bilang, “Semua pantai itu sama aja.” sewaktu aku bercerita tentang perasaanku pada pantai.

Di pantai ini, mereka semua berpasangan. Seperti halnya air laut yang jatuh cinta pada pasir. Kau tau, kerang yang ditinggalkan ombak saat tertambat di tepi pantai? Itu semua cinderamata pemberian air laut untuk mempercantik pasir. Bahkan terkadang, jikalau ombak laut lupa membawa kerang, digandengnya pasir-pasir itu menyelam untuk menyapa ikan.

Pasir dan air laut tak pernah saling mengkhianati, Kinala. Mereka ada dan terbukti cintanya mampu membahagiakan kita yang melihat. Bahkan mungkin, kau akan lebih bahagia kalau mau mencoba bermain dengan mereka, menyelami asinnya air laut dan pasir yang tersangkut di sela-sela kakimu.

Cinta mereka selalu tulus, Kinala. Dari mereka ikan-ikan bisa lahir dan tumbuh dengan sehat, kehidupan ada di dalamnya.

Bahkan saking indahnya ketulusan cinta mereka, manusia-manusia tolol sampai iri dibuatnya.

Manusia ini dengan paksa mengambil air, menghina pasir pantai dengan sampahnya, tak peduli usaha air laut membersihkan dan merias kekasihnya. Makhluk macam apa yang tega memisahkan sepasang kekasih dan menghina kekasihnya secara bersamaan?

Jangan kau anggap remeh, Kinala. Murka air laut yang dipisahkan dari pasir coklat eksotis itu. Sudah beberapa kali ini amukannya menerkam bumi manusia.

Kadang ia datang tiba-tiba, memorak-porandakan bangunan, serta seisinya. Kadang juga, dia datang diam-diam, perlahan ketika manusia-manusia ini sedang tertidur lelap. Lalu merendam kaki mereka hingga berminggu-minggu sampai pucat merah dan lecet. Bau busuk amarahnya pun seringkali mengundang sakit bagi yang menghirupnya.

Lain halnya dengan cinta angin kepada pohon, Kinala. Angin yang sempat kau ceritakan ternyata cukup romantis. Diterbangkannya serbuk ke putik, diajaknya berdansa daun-daun itu sambil ia bisikkan tentang hujan yang akan datang menghibur sang kekasih.

Jangan kau tanyakan bagaimana murka mereka ketika manusia menyakiti salah satunya, Kinala. Terutama tentang pohon. Karena dia adalah putri kehidupan. Jika sang putri kau cabut dari akarnya, jangan salahkan bumi membolak-balikan dataran, bahkan seluruh makhluk bisa ia terlantarkan karenanya.

Oh ya Kinala-ku yang manis. Angin sering menyapa kala perjalanan pulang pergi dari kampus menyalami sela-sela jemari tanganku.

“Sudah cukup lama tak melihatmu. Tempatmu terlalu ramai, panas, asap dimana-dimana, jadi dia jarang kesana kecuali ada hal yang mendesak,” bisik angin.

Akhirnya kutitipakan pesan untukmu, agar angin bisa terdesak kesana menyampaikan rinduku, tentang ceritamu.

Oleh: Rafi Kamaludin

Komentar