Cerpen, Sastra

Salah Kaprah

Ilustrasi by: Cupmantoro

“Jangan lupa 17 April mendatang gunakan hak pilih anda.”

Tulisan tersebut yang venia lihat tadi pagi masih terngiang juga dibenaknya. Bagaimana tidak, tahun ini ia genap berusia tujuh belas tahun. Itu artinya ia memiliki hak untuk memilih. Padahal selama ini Ve sadar, ia apatis terhadap sesuatu yang berbau politik. Tapi kali ini, ia ingin mengetahui informasi-informasi tentang pesta demokrasi nanti.

Di dalam kamar berukuran minimalis dan sangat sederhana, dengan ditemani novel karya Tere liye, baru setengah halaman ia baca, tangannya langsung meraih handphone kesayangannya. Timbullah rasa keingintahuannya tentang calon-calon pemimpin bangsa ini. Kalau di zaman sekarang, sebut saja kepo.

“Pokoknya aku nggak boleh salah milih.” begitu benaknya. Mulailah Ve menelusuri berbagai informasi mengenai calon-calon pemimpin bangsa nanti. Sampai-sampai ia ketiduran dengan handphone masih berada ditangannya. Memang sudah kebiasaan Ve seperti itu. Terkadang ketiduran juga dengan keadaan novel menutupi wajahnya.

***

Pagi harinya, seperti biasa ia menjalankan rutinitasnya sebagai seorang pelajar. Di sekolah kembali ia berjumpa dengan teman-temannya. Tentunya akan ada banyak obrolan dan diskusi menarik perihal pemilu nanti. Apalagi mereka adalah anak-anak millenial yang pada tahun ini menjadi pemilih pemula.

“Kamu nanti ikut milih nggak Ve?” tanya Renata, teman sekelasnya.

“Nggak tahu nih, bingung aku tuh Re. Kita kan sebagai pemilih pemula perlu tahu kualifikasi calon-calon pemimpin bangsa nantinya. Kan agar kita nggak salah pilih juga. Tapi ya sekarang media tuh bikin bingung. Kesannya itu seperti saling menjatuhkan.  Saling sebar berita hoaks, fitnah, dan masih banyak lainnya.” Gerutu Venia.

“Nggak usah dibikin bingung lagi, Ve. Kita memang harus cerdas saat baca berita. Bisa kok nanti tiap calon dicari track record dan background-nya. Entah dari segi pendidikan, sosial, bahkan sampai perilakunya. Karena nasib bangsa ini lima tahun kedepan kan ada di tangan mereka,” jawab Renata santai sambil membuka halaman buku yang sedang dibacanya.

Ketika pelajaran di mulai, Venia tepuk jidat melihat teman sebangkunya, Shara. Sudah tahu guru masih nerangin, eh dia malah buka dompet.

 “Sha, kamu ngapain buka dompet terus? Lagi banyak duit?” tanya Venia setengah berbisik.

“Ntar pulang sekolah, makan yuk. Aku traktir deh, hehehe.” jawab Shara nyengir.

“Ehh kamu duit dari mana? Nggak minta bapak kamu sampai sebanyak itu kan?” tebak Venia dengan mata mendelik.

“Nggak, ntar aku ceritain deh. Oh ya sekalian ajakin Renata. Oke, tenang aja kali, nggak usah curigaan.” jawabnya dengan santai. Venia tak menggubris, dia cari aman aja agar tak di marahi bu Shinta, guru PkN nya yang dikenal killer itu.

“Kalian ada yang mau jadi presiden?” tiba-tiba suara serak bu Shinta menstimulasi para siswa-siswi di depannya untuk mengangguk serentak. Ada yang ngangguk setengah hati, setengah sadar, dan setengah ikhlas.

“Bagaimana materi yang ibu sampaikan hari ini? Paham?” suara bu Shinta bahkan mengagetkan murid yang ngantuk di kelas. Ada yang ngalamun nggak jelas. Penyakit yang selalu terjadi di kelas jika kebosanan melanda. Apalagi Venia, dia memang nggak suka dengan mata pelajaran yang satu ini. Eh bukan cuma mata pelajarannya, gurunya juga nggak terlalu disukai murid-murid. Katanya sih ngebosenin, hehehe.

Pulang sekolah, Shara menepati janjinya juga. Dia mengajak Venia dan Renata untuk makan.

“Gapapa deh, penting perut kenyang dulu.” begitu batin Ve. Beda dengan Renata, dari tadi dia diam aja.

“Duit darimana Sha?” akhirnya Renata buka suara juga.

“Gini ya temen-temenku, kemarin aku tuh dapet duit dari calon anggota dewan Partai Anggur. Awalnya ngumpulin KTP itu sih. Terus….” Belum selesai Shara menjelaskan, Venia dan Renata sudah mendelik.

“Serius??” satu kata keluar dari mulut mereka bebarengan.

“Ya gimana lagi. Siapa sih yang nggak tergiur dikasih duit cuma-cuma begitu?” jawab Shara santai.

“Kita sebagai pemilih pemula, sebagai generasi millenial harusnya bisa mencegah adanya politik uang Sha, seharusnya kita harus jadi pemilih yang cerdas. Jadi pemilih yang cerdas itu pemilih yang lebih mengutamakan rasionalitas dalam menentukan pandangan dan sikap politiknya.” jelas Renata panjang lebar.

 “Tapi ya re, aku juga sebenernya bingung mau milih yang mana. Pas aku cari-cari informasi tentang calon-calon pemimpin itu kok beda sama apa yang aku dengar dari orang-orang. Seperti saling menjatuhkan gitu. Kan kita juga butuh berita yang bener ya.” keluh Venia pada Renata, sahabatnya.

“Iya sih memang begitu. Kita harus pinter juga untuk melawan berita hoaks ya Ve. Mau dengerin sesuatu nggak?” tanya Renata.

Mereka mengangguk saja. Seperti sudah terhipnotis dengan penjelasan Renata.

“Ya intinya kita tuh jangan mudah percaya gitu. Jangan ambil mentah-mentah informasi itu. Baca informasi itu harus lengkap, jangan setengah-setengah. Biar tahu sejelas-jelasnya.” jelas Renata. Untuk urusan politik, memang Renata yang paling antusias dibanding 2 sahabatnya itu.

“Sebenarnya sih ya selain dari diri kalian sendiri itu, KPU berperan juga. Pihak KPU harusnya bisa melakukan literasi politik dengan melakukan pendidikan pemilih kepada pemilih pemula, agar cerdas dalam menentukan pilihan sesuai hati nurani masing-masing tanpa adanya politisasi dari pihak manapun.” terangnya lagi. Diantara mereka bertiga, Renata sudah seperti guru saja yang menerangkan tentang pendidikan politik kepada dua sahabatnya itu.

“Udah, nggak usah pada bingung gitu lagi.” kata Renata sambil menahan tawa melihat ekspresi kedua sahabatnya itu.

 “Gimana? Tetep mau makan?” imbuh Renata sambil melirik kedua sahabatnya.

“Makan, tapi pake duit sendiri-sendiri aja deh. Karena duit tadi dipertanyakan kehalalannya.” Venia ketawa juga.

“Yasudah terserah, yuk ih. Laperr” digandengnya kedua tangan sahabatnya itu menuju rumah makan.

Komentar