Cerpen, Sastra

Rinai Asa

Source pic: haniinara.blogspot.com

Siang itu tak seperti siang biasa. Mentari yang selalu tampak tersenyum membagi sinarnya pada bumi, hari ini tampak menyembunyikan dirinya dibalik awan. Seperti siang yang tak biasa, aku pun begitu. Dengan mengayuh sepeda ontel peninggalan bapak, aku menerjang siang yang lebih tampak seperti sore ini dengan tergesa. Melewati gang demi gang sempit yang seperti tiada ujung. Rasanya tak kunjung sampai tempat tujuan, meski kaki hampir lemas karena kelelahan.

Mendung kian pekat, dengan iringan petir yang cukup menggelegar, gerimis itu turun perlahan menyapa bumi. Seakan menghiraukanku yang kini telah basah kuyup akibat tumpahan air dari langit. Aku tak peduli, tak ingin berteduh menanti hujan reda, yang kuingin hanya lekas sampai pada tempat tujuan. Ada rasa yang perlu ditumpahkan saat itu juga, seperti hujan yang kini datang meluapkan rasanya pada bumi.

Hujan ini membuatku bersyukur, bahwa hujan telah menyamarkan tetes airmata yang juga turun membasahi pipiku. Jika tak ada hujan, mungkin orang-orang akan langsung tau jika aku tengah menangistersedu.

Rumah bercat hijau dengan tanaman teh-tehansebagai pagar utama itu menjadi tujuan pemberhentian kayuhan sepedaku. Aku menjatuhkan sepeda asal, di depan pelataran rumah.

“Assalamualaikum,” ucapku tergesa sambil terus mengetuk pintu. Sekali, dua kali, dan hampir delapan kali tak kunjung terdengar sahutan dari dalam.

Air mataku terus menetes. Sebanyak apapun aku menyekanya, namun tetap saja mengalir tanpa mau berhenti.

Tidak sabar aku mengetuk pintu rumah berkali-kali, tetap tak ada jawaban, mungkin suara ketukanku kalah oleh rinai hujan. Lagi, aku mengetuk pintu sampai pada akhirnya ada sebuah jawaban lirih dari dalam.

“Wa’alaikumsalam. Lar ….”

Aku menghambur ke dalam pelukan seseorang yang kini berdiri persis di depanku, lantas menangis tersedu.

“Laras … ada apa?” tanya Mbak Arin bingung sekaligus khawatir.

Tangannya masih sibuk mengusap puncak kepalaku lembut, berusaha untuk menenangkan meskipun aku tau batinnya sedang bertanya-tanya ada apakah gerangan. Aku masih tak ingin menjawab, rasanya air di dalam mataku ini ingin keluar dan tak bisa cepat untuk kuhentikan. Seolah mengerti, Mbak Arin tetap dalam posisinya dan diam. Tangan kanandia menyentuh pundakku, menepuk-nepuknya pelan berusaha untuk menenangkan.

Setelah puas menangis, aku mengusap airmata kasar, mendongak, menatap Mbak Arin yang sudah menyuguhkan senyum padaku.

“Sudah merasa baikan?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan kecil. Mbak Arin lantas menuntunku untuk masuk ke dalam rumah.

“Kamu ganti baju dulu ke kamar mandi, atau mau mandi sekalian?” Aku segera menggeleng kecil.

“Ya sudah, sebentar, Mbak ambilkan baju ganti dulu.” Tidak ada lima menit, Mbak Arin sudah tiba dengan satu buah celana training panjang warna hitam dan kaos merah muda tanpa motif serta jilbab instan dengan warna senada pula.

“Cepat ganti, jangan sampai nanti sakit gara-gara kehujanan,” nasihat Mbak Arin. Aku lantas bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti baju yang sudah basah kuyup terkena hujan.

***

“Jadi kamu ndak lolos ujian?” Aku mengangguk kecil, masih menahan airmata yang hampir tumpah lagi. Dadaku terasa bergemuruh dan sesak bila mengingat bahwa perjuanganku hari ini sudah berakhir.

“Aku sudah berjuang lebih berat dari yang lain. Semua aku lakukan, Mbak. Sholat sunah, puasa Senin Kamis, tidak pernah absen ngaji, sedekah tiap Minggu yang aku sisihkan dari uang saku dan kerja paruh waktu. Semua sudah aku lakukan. Jika Mbak tanya apa aku sudah maksimal mengerjakan, jawabannya iya. Aku yakin bisa berhasil dengan segala daya upayaku selama ini. Tapi nyatanya aku dihempaskan berkali-kali dan ini puncaknya, Mbak.” Aku mengadu pilu, airmata ini lolos begitu saja tanpa bisa kubendung.

Mb Arin lagi-lagi menenangkan dengan pelukannya.

“Apa yang harus aku katakan pada ibu? Apa yang harus aku banggakan pada bapak di sana?” lirihkuhampir menangis lagi.

“Menangislah sampai lelah. Tumpahkan segala rasamu di sini, katakan semua yang ingin kamu katakan. Biar sesaknya berkurang. Mbak akan menunggu,” ujar Mbak Arin lembut, persis seperti bapak ketika dulu aku sempat gagal dalam lomba debat Bahasa Inggris. Selanjutnya aku menangis lagi dalam pelukan Mbak Arin, menumpahkan segala rasa sesak yang menggunung ini.

“Laras pernah terpikirkan, ndak? Kenapa kamu ndak lolos ujian masuk perguruan tinggi bahkan berkali-kali, padahal kamu sudah berjuang sangat keras? Ibarat sampai titik darah penghabisan?” tanya Mbak Arin disela pelukannya padaku.

Aku mengusap airmata kasar, diam sembari berpikir, hingga hanya gelengan kecil yang keluar sebagai jawaban.

“Aku selalu berpikir aku bisa. Apalagi dengan semua usaha yang aku lakukan, Mbak,” ujarku masih diiringi dengan isakan kecil.

Aku melepaskan pelukan itu, menatap Mbak Arin yang kini juga tengah menatapku. Tangan Mbak Arin membelai punggung tanganku lembut, sangat lembut.

“Nah ini alasannya. Ada kesombongan yang tidak kamu sadari. Seolah-olah kamu hebat dan pasti bisa lolos dengan semua usaha yang telah kamu lakukan.” Aku masih tak mengerti dengan ucapan dari Mbak Arin.

Bagaimana bisa disebut sombong? Toh bukankah Allah mengajarkan hambanya untuk selalu berpikiran positif atas usaha yang telah dilakukan?

“Aku hanya menuruti perintah Allah untuk berpikiran positif dan optimis, bukan sombong,” belaku masih tidak terima. Mbak Arin terlihat tersenyum kecil.

“Terkadang kita tidak bisa membedakan antara optimis dengan sombong. Coba deh ingat-ingat, apa kamu pernah membangga-banggakan pada orang lain entah secara langsung atau tidak langsung bahwa kamu pasti diterima diperguruan tinggi A karena kamu telah ini itu? Pernah?” Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang ditanyakan oleh Mbak Arin.

Tanpa sadar aku mengangguk kecil, sebelum gencar-gencarnya pendaftaran masuk perguruan tinggi, aku sering tanpa sadar mengatakan pasti diterima. Tidak mungkin tidak, mengingat track record akademikku yang hampir mendekati sempurna.

“Jadi sudah bisa ikhlas, kan?” Aku menatap raut wajah teduh milik Mbak Arin lama, menyelami arti kata ikhlas yang diutarakan oleh perempuan anggun itu.

“Ikhlas juga butuh waktu, Mbak,” ujarku lirih yang disambut senyum kecil oleh Mbak Arin.

“Baiklah. Tapi masih belum menyerah, kan?” tanyanya lagi memastikan masih dengan senyum yang tidak jua hilang.

“Pasti,” seruku. Entah kenapa tiba-tiba ada energi semangat yang masuk dalam diriku. Aku tersenyum lebar, memeluk Mbak Arin erat-erat. Seperti kata orang bijak, jika kamu jatuh sekali, maka bangunlah dua kali. Jika kamu jatuh dua kali, maka bangunlah tiga kali. Dan aku sedang berjuang untuk bangun lagi.

Komentar