Cerpen

Gadis Senja

google.com


Panji Pangestu Andaru adalah nama yang disematkan kepada seorang bocah laki-laki yang sampai usianya genap 23 tahun hari ini, ia masih memakai nama itu. Kalian bisa memanggilnya Panji, meskipun semua keluarganya memanggilnya dengan nama Andaru.  Ia hanya sedikit tidak suka jika dipanggil Andaru. Alasannya? Kalian akan tahu nanti. Oh ya, dan yang harus kalian tahu adalah bocah dengan nama Panji Pangestu Andaru adalah aku.

***

Entah setan apa yang membawaku sampai ke tempat ini. Setelah selesai bekerja aku langsung melesat ke Pantai Ancol. Hal yang sangat jarang aku lakukan. Karena setiap aku selesai bekerja aku akan segera pulang ke kontrakan dan kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai atau malah lembur hingga tengah malam.

Sekarang,aku hanya duduk terdiam, sendirian. Bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Hanya termenung sambil sesekali melihat lalu-lalang orang yang melintas. Sibuk mencorat-coret pasir dengan jari telunjuk. Berjalan kesana-kemari tak tentu arah. Andaikan orang-orang memperhatikanku, mereka pasti mengira aku adalah orang yang putus asa dan ingin bunuh diri.

Anggaplah jika aku sedang galau sekarang. Galau dalam artian bingung, bimbang, atau resah. Bukan galau yang dialami anak jaman now lantaran putus cinta, di-php, atau karena Long Distance Relationship. Aku galau karena sebuah nama. Nama yang tidak spesial karena menurutku belum ada yang spesial hingga saat ini, tidak tahu kalau nanti.

Kumandang adzanmenyadarkanku jika malam telah datang. Kupandangi langit dengan mega merah yang mulai kelabu. Segera aku berjalan ke tempat parkiran. Menyalakan mesin motor dan melaju ke rumah-Nya.

***

            Untuk yang kedua kalinya, aku kembali ke tempat ini, sama seperti kemarin. Masih tanpa alasan yang jelas. Hanya saja, kali ini aku datang membawa sebuah buku sketsa kecil. Buku yang tersimpan rapi di salah satu anakan tasku. Bukunya masih kosong kalau kalian ingin tahu. Hanya berisi biodata singkat dan tanggal aku membelinya karena aku tidak sempat menggambar lagi sejak dua tahun lalu.

            Banyak hal yang membuatku tidak menggambar lagi. Salah satunya karena sibuk bekerja. Sebagai satu-satunya anak yang diandalkan dalam, keluarga tentunya aku ingin punya uang. Meskipun mereka tidak meminta uang, namun aku tahu mereka membutuhkannya.

Aku mencari tempat yang sedikit pengunjung dan memutuskan untuk duduk di bawah pohon. Alasannya, agar aku bisa bersandar dan barangkali aku ingin tertidur nantinya. Melihat-lihat suasana di sekitar yang lenggang membuatku ingin menggambar. Tanpa sadar tanganku sudah bergerak menggambar apapun yang tertangkap oleh indra penglihatan.

            Satu hal yang menyebalkan karena menggambar adalah aku sering lupa waktu. Seperti kali ini, aku terlonjak kaget karena dering alarm ponsel di saku bajuku. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku bergegas berlari menuju parkiran motor setelah sadar jika ada tugas kantor yang harus aku selesaikan malam ini.

***

            Akhirnya untuk yang ketiga kalinya aku mempunyai alasan kenapa aku datang kembali ke tempat ini. Setelah kemarin pulang bak prajurit yang pergi ke medan perang. Aku baru tersadar ada hal yang terlupa. Buku sketsaku tertingal. Mencoba mencari mulai dari tempat parkir hingga ke tempat aku duduk kemarin. Namun, hasilnya nihil. Agak sedih sebenarnya. Meskipun bukan barang berharga, buku sketsa itu telah ada bersamaku selama dua tahun dan gambar pertamaku setelah dua tahun juga.

            Karena terlanjur datang ke sini, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sembari menikmati angin sore dan menunggu malam datang. Beruntung tidak banyak pengunjung, mungkin karena bukan akhir pekan.

            Tidak ada yang spesial hingga detik ini. Entah kenapa pandanganku terpaku kepada seorang gadis yang berdiri tak jauh dariku. Tatapanya lurus ke depan. Tubuhnya tak bergeming seolah-olah terpaku di tempatnya berdiri. Aku mengikuti arah pandang gadis itu, yang kulihat hanya tanda-tanda bahwa matahari akan tenggelam.

            Aku sedikit terlonjak karena suara pekikan seseorang. Aku menoleh, kembali memperhatikan gadis tadi. Wajahnya terlihat sumringah. Aku bertambah heran ketika kulihat gadis itu seperti akan menghampiriku. Bukannya aku sok pede, tapi dari gerak-geriknya aku menjadi merasa seperi itu.

            “Andaru?” Gadis itu tiba-tiba memanggil namaku. Aku menampakkan wajah heran. Darimana dia tahu namaku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?

            “Hmm … Well ….” Dia menujuk dada sebelah kiriku lewat tatapan matanya. Kemudian ia terlihat mencari sesuatu di dalam tas slempangnya,”Ini milikmu bukan?” Belum sempat aku menjawab dan bertanya darimana dia mendapatkannya, ia kembali bersuara. “Aku melihat seseorang berlari kesetanan dan menjatuhkan bukunya kemarin. Lain kali hati-hati.”

            “Terimakasih.” Hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan.

            “Kamu punya nama yang bagus,” ucapnya sambil tersenyum.

            “Bagus? Aku merasa biasa saja.”

            “Kebahagian.” Gadis itu mengucapkannya sambil tersenyum. Aku dibuat semakin heran olehnya. “Namamu punya arti yang bagus. Ah, benar. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, bukan?”

            “Mungkin benar.” Aku menjawab dengan pandangan sedikit menerawang.

            “Mungkin? Aku pernah mendengar jika nama adalah sebagian dari harapan atau doa orang tua kepada anaknya. Apa kamu tidak merasa seperti itu?”

            “Tidak.” Aku menjawab dengan nada sedikit kesal.

            “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu. Aku pergi dulu.” Gadis itu melambaikan tangannya sebentar sebelum kemudian berbalik berjalan pelan sambil memandang keseberang lautan.

Aku belum sempat mengucapkan sepatah katapun. Gadis itu sudah jauh dari pandanganku. Sekarang, aku menjadi merasa bersalah. Aku tidak bermaksud membuatnya merasa seperti itu. Sudah kukatakan di awal, aku sedang galau karena sebuah nama.

Aku memutuskan pulang setelah mendengan suara adzan berkumandang. Kali ini, aku berjalan dengan pelan. Khawatir buku sketsaku jatuh lagi dan mungkin bertemu dengan gadis lain yang lebih aneh dari gadis tadi.

Mataku masih saja terjaga, sulit untuk diajak terpejam. Padahal waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ucapan gadis tadi selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Membuat otakku tak bisa berhenti berpikir dan tidur.

Aku percaya bahwa setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Salah satunya dengan memberi nama yang baik.  Berdoa lewat nama yang diberikan kepada anak-anaknya.

Sejak aku paham dan pandai berkata-kata, aku sudah tahu arti dari namaku. Menjadi anak yang bisa jadi kebanggaan orang tua dan selalu direstui atau dipenuhi dengan kebahagiaan. Kalimat yang dikatakan ibu seperti sudah terpatri dalam otakku.

Kalimat itu seperti mantra yang menumbuhkan semangatku dan pegangan dikala aku terjatuh. Mengingatkanku bahwa mereka berharap banyak padaku. Menyadarkanku bahwa aku harus menjadi yang bisa diandalkan.

Dua puluh satu tahun hidupku berjalan normal seperti tidak ada halangan apapun. Meskipun hidup dikeluarga yang biasa. Aku merasa cukup. Bisa sekolah dan kuliah dengan bantuan beasiswa, menyambi bekerja untuk sedikit membantu meringankan beban orang tua dan lulus dengan predikat terbaik.

Semua berjalan baik hingga dua tahun lalu. Aku masih ingat bagaimana susahnya kedua orang tuaku dalam menghidupi ekonomi keluarga. Mereka banting tulang siang malam, berdoa tiada henti. Kedua adikku butuh biaya untuk sekolah sedangkan rumah kami makin lapuk termakan usia dan harus segera direnovasi.

Tak sanggup rasanya melihat tubuh yang mulai renta masih dipaksa bekerja. Kapan mereka akan menikmati masa senjanya? Karena itulah aku pergi merantau ke Jakarta. Berharap bisa membantu perekonomian keluarga. Membantu adik-adikku mencapai impiannya. Kalimat ibu yang kembali menguatkanku agar bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan bisa diandalkan.

Kesibukan telah menjauhkanku dari hal-hal yang kusukai. Itulah kenapa aku tak pernah menggambar lagi. Itulah kenapa aku tidak suka dipanggil Andaru. Aku mungkin bisa menjadi anak yang diandalkan dan dibanggakan, namun aku tidak merasa bahagia lagi.

***

            Sudah hampir seminggu semenjak terakhir kali aku datang ke pantai. Akhir pekan ini aku ingin kembali kesana. Tidak ada alasan khusus kenapa aku kembali. Aku hanya merasa ingin  menggambar di sana saja.

Kata orang-orang, Pantai Ancol adalah tempat yang cocok untuk melihat sunset. Aku ingin mengetahuinya dan barangkali ada objek menarik yang bisa aku gambar. Aku memutuskan duduk di seberang jembatan, menunggu sunset tiba.

            Warna langit mulai dipenuhi semburat warna jingga. Matahari mulai bisa dipandang, bulat sempurna. Aku tidak tahu, sejak kapan matahari bisa seindah ini. Aku hanya tahu orang-orang suka menyebutnya senja. Indraku menangkap sebuah objek yang menarik di sebelahku. Seorang gadis dengan wajah yang dipenuhi ketakjuban. Kebahagiaan seolah terpancar dari kedua matanya. Menyalur keseluruh tubuhya. Apa yang membuat dia terlihat sebahagia itu?

            Buku sketsaku terlupa begitu saja. Sudah tidak ada niat lagi untuk menggambar. Sungguh, mataku tak bisa lepas dari gadis ini. Apa aku sudah memberitahu kalian jika gadis yang sedang kupandang adalah gadis yang sama? Seorang gadis yang menemukan buku sketsa dan membuatku tidak tidur semalaman karena ucapannya. Setelah matahari benar-benar tenggelam dan langit mulai berubah pekat, barulah ia menyadari kehadiranku.

            “Andaru? Sejak kapan kamu disini?”

            “Sudah lama.” Aku menjawab sekenanya. “Kamu suka senja?” Tanpa sadar aku bertanya seperti itu.

            “Aku selalu suka senja,” Matanya terlihat berbinar-binar. “Senja selalu bisa membuatku bahagia.”

            Bagaimana bisa hanya dengan melihat senja dia bisa sebahagia itu? Seolah memahami tatapanku ia kembali berucap, “Aku menikmati prosesnya. Aku sadar, kadangkala sore tidak selalu membawa senja. Namun, tanpa melihat senjapun aku merasa telah melihat senja karena aku paham bagaimana prosesnya. Bahagia itu bisa didapat darimana saja, kan?”

            Aku tak bisa berkata-kata, hanya senyum simpul yang dapat aku tunjukkan. Aku memandang langit yang mulai menghitam. Ada satu hal yang aku pahami sekarang. Lantunan suara adzan mulai terdengar bersahutan. Menandakan waktunya untuk pulang. Kembali kupandang gadis disebelahku.

            “Mau shalat bersama?” Ajakku spontan dan hanya dijawab senyuman olehnya.

***

Tersadar jika bahagia itu sederhana. Sesederhana yang kulihat sore itu. Barangkali senja punya sihir tersendiri bagimu. Sihir yang hanya engkau tahu dan aku tersihir oleh tawamu. Gadis Senja.

Oleh: Mutiasih anggota baru 2018

Komentar