Sastra

Siluet Sang (Pena)ri.

By: Ken

(Chapter 1)

Setelah menunggu sesi kebelet Demas berakhir, kami memilih untuk mampir ke bazar yang ada di depan aula. Berkeliling melihat-lihat sambil sesekali mampir di stand motor dan berhenti cukup lama di stand action figure. Demas dan gue memang penggemar action figure walaupun gue bukan yang maniak mengoleksi sih, hanya beberapa yang mampu gue beli aja.

Omong-omong, acara teater dan tari tadi, adalah pembuka acara ulang tahun fakultas seni kampus gue. Yang mana merupakan acara keren dari hasil kolaborasi antara jurusan seni musik, seni tari dan seni teater. Gue belum pernah nyatronin acara seperti ini di kampus, dan gue nggak menyesal. Teman-teman dari jurusan teater, seni tari dan seni musik benar-benar luar biasa. Gue hampir saban hari selama 4 bulan ini lihat mereka latihan di graha mahasiswa, teriak, lari-lari, dan hasilnya nggak mengecewakan. Padahal jelas anak-anak musik belajar dari nol tentang seni peran, pun anak tari. Dan memang, hasil tidak akan menghianati usaha.

Gue dan Demas sekarang sedang duduk di bawah tenda salah satu stand yang menjual pempek palembang. Lalu kejadian luar biasa itu datang bersamaan dengan kedatangan pacar Demas dan kawan-kawannya. Gadis penari itu ada di antara mereka. Dia kelihatan lebih santai mengenakan baggy pants cokelat kopi dipadu kaus galaxy putih. Kondenya telah dilepas dan wajahnya kelihatan segar tanpa make up.

Suara berisik orang-orang di bazar nggak lagi terdengar di telinga gue. Dan semua yang ada di depan mata gue mendadak blur, berfokus hanya pada bagaimana mata gadis itu membentuk bulan sabit saat tersenyum lebar. Yang di kemudian hari menjadi hal yang gue sukai.

Kejadian-kejadian selanjutnya membuat gue berpikir tentang, bagaimana mungkin dia mampu tertawa saat dunianya terbelah menjadi dua? Bukan, bukan karena dia nggak pantas untuk itu. Hanya saja, jika gue ada dalam posisi seperti dia, gue pasti akan murung, kelelahan fisik dan hati. Tapi dia nggak.

Hei, mungkinkah kamu malaikat?

💃💃💃

Hey, Udah lama di sini?” tanya Gea, pacar Demas, yang entah ditujukan untuk kami berdua atau Demas saja. Gue diam, mencoba untuk tetap fokus pada semangkuk pempek palembang di hadapan gue. Tapi nggak bisa.

“Baru aja kok. Tadi keliling dulu sama Aldan. Ya nggak, Dan?” Gue mengangguk, sembari menatap teman-teman Gea yang sedang memesan minuman. Mereka berdua mengobrol seru, yang tentu saja nggak gue dengarkan. Dalam kepala gue sekarang ada sebuah pertanyaan bagaimana Gea yang notabene anak komunikasi bisa kenal gadis penari itu yang gue yakin betul adalah anak jurusan seni tari. Melihat bagaimana lenggak-lenggok tubuh dan luar biasanya tarian dia tadi, nggak mungkin dia dari seni teater ataupun musik. Hmm, bisa jadi sih.. Dengan catatan dia ikut kelas menari.

Teman-teman Gea akhirnya bergabung dengan meja kami. Sembari menikmati pempek, Gea memperkenalkan mereka, membuat gue jadi tahu nama gadis penari itu. Namanya Della Saphiera. Dan benar, dia anak jurusan s1 tari sekaligus s1 komunikasi. Yang seketika bikin Demas menganga kaget, menumpahkan kuah pempeknya ke dalam mangkuk lagi. Duh, teman gue kenapa begini banget? Hehehe, gue dong, walaupun kaget tetep stay cool.

“Nggak nyambung banget kan? Ini nih yang bikin dia jomblo. Sibux,” kata Gea, yang berefek memerahnya muka Della disusul beberapa timpalan teman-teman Gea yang lain.

Memang dasar cewek, entah gimana mereka kemudian membahas Vidi Aldiano, bintang tamu acara utama ulang tahun fakultas seni, konsernya sebentar lagi dimulai.

“Lo jadinya mau nonton Vidi nggak?” tanya Demas.

“Nggak deh, gue kudu balik. Nyokap gue pengen ketoprak yang di jalan Salak. Nutup kalo kemaleman,” kata gue sambil mengelap bibir dengan tissue dan bangkit berdiri.

“Gue duluan ya. Sori banget Dem.” Cowok itu mengangguk. Gue kemudian tersenyum kecil kepada Gea dan teman-temannya, sebelum mengambil motor di parkiran belakang.

Yang gue tau selanjutnya adalah, Della juga nggak bisa nonton Vidi karena dia udah kelewat lelah. Gue menemukan dia berjalan menuju gerbang. Tentu aja gue berhenti.

“Hei,” Dia menoleh.

“Nggak nonton Vidi?”

Mata Della memicing, mengamati gue karena memang kondisinya gelap.

“Oh, lo temannya Gea tadi ya?”

Gue mengangguk.

“Nggak, capek.”

“Terus ini mau pulang?” Della mengangguk.

“Rumah lo dimana? Mau bareng?” tawar gue, kelihatannya sih santai, tapi sumpah jantung gue rasanya turun ke perut.

“Di Perum Teratai. Duluan aja, gue bentar lagi dijemput kok,” debar jantung gue mendadak berkurang.

“Bukan pacar lo kan?” Adalah pertanyaan yang gue sesali. Bodoh banget.

“Memangnya kenapa?”

“Karena kata teman lo tadi, lo jomblo.” Gue menyesal lagi. Tapi bukannya tersinggung, Della justru tertawa. Benar-benar tertawa. Gue memasang wajah bingung.

“Muka lo lucu.” Mau nggak gue menggaruk tungkuk gue yang nggak gatal.

Setelah melanjutkan tawanya, Della menjelaskan, “Gue dijemput Grab.”

Huf. Ternyata ojek online.

“Udah pesan?” Dia mengangguk.

“Yaudah yuk gue temenin nunggu.”

“Nggak usah, Al.” Gue diam. Baru kali ini ada yang manggil gue Al, selain nyokap gue di rumah. Dan it sounds good.

“Ketimbang ditemenin nyamuk kan? Udah ayo.”

Della menurut, duduk membonceng di belakang gue. Nggak lama, kami sudah duduk di halte. Dia doang sih, gue duduk di motor.

Kami sama-sama diam, memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan.

“Lo bukannya tadi kudu beliin nyokap lo ketoprak?” tanya Della membuka obrolan, membuat gue menoleh pada dia.

“Iya. Nggak apa kok, masih buka sampai jam 9,” jawab gue sembari melihat jam di ponsel sekilas. Baru jam 8.

Gue akhirnya keinget sebuah pertanyaan besar gue tadi.

“Dell,”

Gadis itu menatap gue, “Ya?”

“Sori kalau gue lancang, tapi gue ingin memastikan. Gue selama ini hanya melihat tarian bahagia, sedih, cinta.. Tapi melihat tarian lo tadi, lo ada diantara keduanya.. Gue lihat tadi, tarian lo kelihatan ikhlas. Apa yang sedang coba lo ikhlaskan, Dell?”

Dalam gelap, samar gue melihat air muka Della berubah. Dia terkejut. Dia menunduk. Membuat dada gue diselimuti resah karena merasa bersalah.

Thankyou penilaiannya, Al. Mungkin benar,..” ucapannya menggantung, dia terlihat ragu.

“Apa.. lo baik-baik aja?” Gue bertanya lambat – lambat.

“Gue baik – baik aja.”

Nggak. Dia nggak kelihatan baik-baik saja. Tapi pertanyaan gue tadi memang belum saatnya dilontarkan, apalagi sama seseorang yang baru gue kenal.

Kami diam cukup lama, sampai akhirnya gue nggak tahan sendiri.

“Gue.. hmm.. bisa nggak, lo anggap aja gue nggak pernah nanya kaya tadi?” tanya gue.

Della tersenyum, lagi-lagi bulan sabit itu tercetak di wajahnya.

“Oke. Tapi bisa juga nggak, lo lupain tentang pengamatan lo tadi?”

“Kenapa?”

“Karena gue belum siap?”

Okay. Asal lo mau jadi teman gue.”

Della tertawa. Yang mau nggak mau menular pada gue.

Deal.”

“Serius? Lo mau jadi teman gue?”

Della tertawa lagi.

“Iyalah. Kenapa nggak? Tapi gue sibuk Al, hubungan pertemanan gue nggak seperti yang lain.”

Dan benar, gue nggak pernah melihat Della keliaran di kantin ataupun taman buat sekadar makan atau nongkrong. Entahlah dia dimana. Dia pasti sedang sibuk banget karena gue sendiri juga masih hectic dengan beberapa tugas akhir menjelang UAS.

**

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>