Cerpen, Sastra

Tinggalkan Kepalamu!

Bobo Kribo

Silau dan hangatnya matahari menyambut Kipal dari jendela kamar tidurnya pada minggu pagi. Ia beranjak dari kamar tidur dan disambut dengan harumnya susu kedelai yang telah siap untuk dijual ibunya. Langsung saja Kipal mengambil satu bungkus susu kedelai yang ada di termos tanpa cuci muka dan sikat gigi.

“Bukannya cuci muka sama gosok gigi malah langsung comot aja sulenya (susu kedelai),” seru Bu Tanti yang lagi menggoreng ayam.

“Iya bu, nanti sekalian mandi,” jawab Kipal sembari menuangkan susu kedelai ke gelas.

“Terus itu, serat kulit kelapa yang ada di kepala lu, kapan lu pangkas pal? Ibu mau minta tolong  nanti sore tolong anterin ke Bu Nia mau beli kedelai. Kedelai ibu habis,” pinta Bu Tanti sekali lagi.

“Tapi bu, nanti sore aku mau ke sana.”

“Nggak usah kebanyakan alasan Pal. Nanti sore Kharisma pulang. Tolong nanti lu jemput dia di stasiun ya. Bu Nia lagi sakit pinggang, suaminya lagi jaga tokonya di Tangerang” ujar Bu Tanti yang sedikit kesal dengan Kipal karena tak kunjung memangkas rambutnya.

Setelah mendengar pernyataan seperti itu, Kipal mulai masuk kamar dengan membawa susu kedelai yang ada dicangkirnya. Ia mulai bimbang apakah rambutnya akan dipangkas atau tidak. Karena ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak memangkasnya sampai ia menemukan pasangan yang pas untuk dijadikan istri. Ia juga teringat bahwa Kharisma adalah wanita yang rajin dan tak suka ha-hal yang berantakan. Namun, entah mengapa ketika ia terbayang senyumnya Kharisma yang manis, tiba-tiba ia pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke Barber Shop yang ada di dekat rumahnya. Dan kebetulan juga Baber Shop itu pemilik temannya.

Ketika masuk ke Barber Shop tersebut Kipal kaget, ada banyak orang disana untuk mengantre potong rambut. Padahal biasanya ia tak pernah melihat Barber Shop milik temannya seramai ini. Walaupun begitu, ia tetap duduk disana untuk ikut mengantre sambil membaca koran olahraga yang tersedia di meja.

Merasa bosan dengan membaca koran olahraga, Kipal buka Handphonenya yang ada di saku celananya. Ia membuka Whatsapp dan tak sengaja melihat statusnya Kharisma dan membalas status yang terpampang di Whatsappnya.

“Kamu udah bangun?” tanya Kipal.

“Belum Kak. Kebetulan ini bales chatnya pake jasa ketik, hehe,” balas Kharisma dengan nada becanda.

“Kamu ini bisa aja. Kamu tau nggak? Walaupun kamu bukan water, tapi aku kangen lo,” gombal Kipal yang memang sudah menjadi hobinya.

“Aku juga kangen kak. Tapi sayang, aku nggak sayang kakak, huhuh,” balas Kharisma.

“ Hahahaha. Lama tak bersua, kamu pasti mau liat kemoceng baru yang ada di kepalaku kan? Nanti sore aku jemput kamu di stasiun,” gurau Kipal.

“Oke kakak. Nanti aku mau && cantik. Semangat ngerjain skripsinya kakak tingkat semester dua digit,” balas Kharisma.

“Oke aku tunggu cantik,” balas Kipal yang mulai senyum-senyum sendiri.

Kharisma adalah mahasiswi asal Jakarta yang kini sedang duduk di bangku kuliah Universitas Diponogero. Ia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan saat ini ia sedang ada di semester enam. Sedangkan, Kipal adalah mahasiswa asal Jakarta yang sedang duduk di bangku kuliah  dan saat ini sedang mengerjakan skripsinya yang tak kunjung selesai. Ia kerap diledek Kharisma sebagai kakak semester dua digit. Mereka saling mengenalinya karena kebetulan dulu mereka satu ekstrakuliler, yaitu PMR (Palang Merah Remaja) sewaktu SMA.

Kipal mulai bingung akan memanjangkan chatnya dengan Kharisma. Sehingga ia membuka aplikasi lain yang ada di Handphonenya mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, hingga Mobile Legend. Namun hal-hal tersebut tak bisa mengikis rasa kebosanannya hingga ia mulai protes dengan temannya, Eru sang pemilik Barber Shop.

“Eh bujang lapuk, kapan nih giliran gue? Gue udah bosen nih nungguin ampe lumutan,” jengkel Kipal terhadap Eru

“Lah emang lu kapan mulai ngantrenya? Noh, masih banyak yang belum gue pangkas yang ngantrenya mulai dari senja kemaren,” jawab kesal Eru

“Nah gue? Mulai dari senja abad kemaren,” timpal Kipal yang memang punya sifat agak kurang sabar.

“Udah duduk aja dulu atau keluar bentar cari angin kek apa kek, kalo udah giliran lu nanti lu gue panggil deh,” ujar Eru

“Yoweslah,” kesal Kipal

Sambil menunggu giliran, Kipal kembali bermain Mobile Legend. Kekesalan tersebut makin bertambah kala ia kalah bermain game. Jengkelnya mulai tak terkendali hingga dia hampir saja menggebrak meja yang ada dihadapannya. Namun, karena dilihat orang-orang yang ada disekitarnya ia membatalkan gebarakan mejanya dan diganti dengan mengambil air minum yang ada di meja tersebut lalu mulai protes dengan Eru karena tak kunjung dapat giliran pangkas rambut.

“Eh, ubin sumur kapan nih gilaran gue? Lama-lama jadi tengkorak nih gue,” kesal Kipal yang mulai memuncak

“Kalo lu nggak sabar, mending lu tinggalin kepala lu disini, terus pergi yang jauh buat usir kebosanan lu!” ujar Eru yang nampak kesal dengan Kipal.

Pernyataan tersebut sontak membuat Kipal kaget dan merasa ngeri. Walaupun begitu, Kipal tetap berada di tempat sambil bolak-balik buka menu handphonenya akibat kebosanannya yang tak kunjung usai.

 

 

Note: Sumber jokes ini berasal dari twitter @daraprayoga, @ikramarki, @seterahdeh, dan instagram @anakkuliah

Komentar