Sastra

Siluet Sang (Pena)ri

By: Ken

Riuh tepuk tangan menggema memenuhi aula kampus saat seorang penari terakhir selesai tampil, gue dan Demas pun ikut bertepuk tangan juga. Tambahan, Demas tepuk tangan lebay, sedangkan gue enggak. Pokoknya kalau ada yang tanya siapa cunguk di sebelah gue, jelas jawabannya adalah gue nggak kenal. Karena sumpah, ini anak malu-maluin. Andai aja nggak gue ingetin, dia hampir-hampir siul kenceng sambil nangis. Gimana nggak, Demas emang manusia terbaperan di sepanjang hidup gue.

“Kok lo biasa aja sih? Kenapa? Penari penutupnya bagus tauk. Wagelaseh,” Berondongnya.

Karena penarinya kelihatan aneh.

Tentu saja itu hanyalah ada dalam hati gue.

Jujur, gue memang bukan pecinta tari. Tapi gue sering nonton Tante gue melatih nari di sanggar tarinya. Yah walaupun cuma tiap hari minggu, yang mana selain membuat gue jadi punya kerjaan yaitu motret event-event tante gue dan murid-muridnya, juga membuat gue jadi sedikit banyak tahu makna di balik gerakan-gerakan tari. Gue tahu mana gerakan yang bermakna bahagia dan enggak. Entah gimana, pokoknya gue tahu aja.

Dan penari terakhir tadi.. dia kelihatan apa ya.. bukan sedih, tapi seolah ada sesuatu yang..

Anggaplah gue nyinyir. Tapi dia kaya kelihatan ikhlas.. bagi gue aneh. Gimana sih ya, gue belum pernah melihat seseorang menari dengan menonjolkan makna ikhlas. Biasanya yaa, menggebu, lemah lembut, atau cinta _yang mana bisa cinta kepada lawan jenis atau cinta kepada menari itu sendiri_.

Ah entahlah, gue sendiri nggak yakin.

Hanya saja, gadis itu terlihat seperti menyeka air matanya sesaat sebelum tarian dimulai saat seluruh aula digelapkan, saat lampu sorot belum diarahkan kepadanya. Lampu sorot padam dan anehnya, aula tak kunjung terang sampai sekarang. Padahal jelas, rasa penasaran gue sudah sampai di ubun-ubun, karena sosoknya nggak terlalu jelas dari bangku yang gue duduki. Salahkan Demas yang menukar tiket kami dengan tiket pacarnya dan juga gue yang lupa bawa kamera buat mengabadikan gambar sekaligus melihat dengan lebih jelas melalui hasil zoom in-nya.

Gue lihat gadis penari itu berlalu, untuk kemudian bergabung bersama seluruh penampil hari ini berbaris di depan panggung, mengucapkan terimakasih. Samar-samar gue lihat dia tersenyum. Dan dari jauh pun, senyumnya menular. Duh, melankolis banget. Efek temenan sama Demas sekian tahun.

Belum lagi gue selesai nyalahin Demas, bocah itu narik-narik tangan gue untuk segera pergi karena dia kebelet. Kebiasaan dia kalau kelamaan duduk. Gue pun menurut, mengikuti langkah Demas keluar dari aula kampus dan bersyukur karena setelah itu, ada kejadian yang luar biasa di hidup gue. Tentang bagaimana gue mengenal Della dan kisah hidupnya.

Untuk Della, dimanapun lo berada, gue akan tanpa ragu mengatakan bahwa sejak saat itu, hidup gue nggak lagi melulu soal keindahan, tapi juga tangis saat usaha untuk menciptakan keindahan itu sendiri.

Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>