Berita, Opini, Unek-Unek

Apakah Jadi Atlet Harus Meledak-ledak?

Lin Dan, of China, celebrates his win over Srikanth Kidambi, of India, in a men's singles quarterfinal badminton match at the 2016 Summer Olympics in Rio de Janeiro, Brazil, Wednesday, Aug. 17, 2016. (AP Photo/Kin Cheung)

Setiap orang memiliki karakter dan pribadinya masing-masing. Hal ini dikerjakan oleh Tuhan agar hidup kita jauh lebih indah dan saling menghargai satu sama lain. Hal ini pula yang tak bisa lepas dari dunia olahraga.

Layaknya pelangi dan rakyat Indonesia, di dunia olahraga pun begitu. Ada yang berasal dari Tiongkok, Denmark, Perancis, Malaysia, dan belahan negara dunia lainnya. Namun, kali ini saya akan membahas tentang kepribadian atlet saat bertanding.

Siapa yang tak kenal dengan atlet yang sedang ‘naik daun’ Kevin Sanjaya Sukamuljo? Atlet binaan PB Djarum ini telah mencetak berbagai prestasi seperti juara All England 2017-2018. Ia bersama pasangannya, Marcus Gideon Fernaldi telah mencatat ulang sejarah Ricky/Rexy yaitu juara All England dua kali berturut-turut.

Selain itu, aksi Kevin Sanjaya di berbagai pertandingan telah mencuri perhatian banyak  khalayak. Bagaimana tidak, ia kerap kali tampil sebagai provokator. Mulai dari lawannya, hingga dengan wasitnya. Insiden pada saat babak semifinal India Open 2016 adalah salah satu contohnya.

Saat itu,  Tan We Kiong yang menjadi lawannya meminta pergantian bola namun Kevin menolaknya. Lebih panasnya lagi sang wasit seakan memihak di kubu Kevin. Dan diakhir laga, Tan menolak berjabat tangan dengan Kevin hingga wasit mengeluarkan kartu merah bagi atlet asal Malaysia tersebut.

Tak hanya aksi non teknisnya yang mencuri perhatian, Kevin Sanjaya juga memiliki pukulan-pukulan bola yang ‘nakal’  dan membuat penonton ternganga. Lompat sana, lompat sini dan bola mendarat di tempat tak terduga sehingga ia dijuluki oleh para fans “The Flying Kevin”.

Lain halnya dengan Kevin Sanjaya, Hendra Setiawan justru memiliki keunikan yang berbeda. Ia memiliki pribadi yang lebih kalem, baik di luar lapangan maupun di dalam lapangan. Menurut istrinya, Hendra adalah sosok yang irit bicara.

Di dalam lapangan ia jarang berselebrasi ketika meraih poin dari rally-rally panjang. Bahkan ketika menjuarai sebuah kejuaraan sekelas Olimpiade. Hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai “The Silent Killer”. Berbeda dengan Kevin yang selalu meraih poin dan memenangi kejuaraan dengan teriakan yang menggelegar.

Atlet kalem tak hanya disematkan oleh atlet asal Pemalang tersebut. Akane Yamaguchi (JPN) yang menjadi juara termuda di ajang super series dan Tai Tzu Ying (TPE) juara All England 2018 pun demikian. Memasang wajah yang datar saja ketika meraih poin bahkan menjuarai sebuah kejuaraan sekalipun.

Dengan adanya dua hal tersebut, apakah menjadi atlet yang meledak-ledak adalah sebuah keharusan? Seperti yang dikatakan sebelumnya, setiap orang memiliki karakternya masing-masing untuk mencapai sebuah tujuan. Toh, walaupun dengan fenomena yang demikian mereka bisa meraih prestasi yang membanggakan.

Hendra Setiawan yang dinilai oleh para penonton tak memiliki gairah bermain justru mencetak banyak prestasi dan terbilang lengkap. Mulai dari kejuaraan super series, kejuaraan dunia, hingga Olimpiade. Ia juga kerap kali memegang ban kapten di Thomas Cup.

Kevin Sanjaya pun demikian, walaupun dianggap ‘nakal’ ia kerap kali menghibur penonton lewat aksi-aksinya. Hal inilah yang membuat bulutangkis semakin menarik untuk ditonton. Ada aksi-aksi yang jarang dimiliki oleh atlet lainnya. Maka dari itu, untuk mencapai kesuksesan cukup Anda menjadi diri sendiri saja serta tak melupakan kedisiplinan dan kawan-kawannya. Hal ini tentu lebih nyaman daripada duduk disamping gebetan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>