Agenda, Berita, Kampus

Kajian Kitab Turots; Upaya Kampus Membumikan Kitab Kuning

Kajian Kitab Kuning

Kajian Kitab Turats, Tahfidz, dan BTQ merupakan salah satu program yang diselenggarakan oleh kampus IAIN Pekalongan yang tidak termasuk dalam kurikulum perkuliahan atau dapat dikatakan diluar jam perkuliahan. Adapun tujuan dari program kajian kitab turots, tahfidz, dan BTQ adalah menjadi pusat kajian ke-Islaman yang utuh, komprehensif serta berpadupadan antara satu kesatuan ilmu. Sehingga tidak melahirkan pendangkalan pemahaman dan dapat membentuk keseimbangan pola hidup. Yaitu agar terjadi harmonisasi dalam hubungan antar manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia serta manusia dengan alam sekitarnya.
Kajian kitab turots merupakan kegiatan yang mengkaji berbagai bidang ilmu keislaman. Beberapa karya Ulama terdahulu yang dikaji dalam kajian kitab turots antara lain Kitab Fathul Qorib (faiqh), Abi Jamroh (hadits), Al-Bayan Al-Mufid (Akidah), Syarah Quwaisini (Mantiq), Tafsir Ayat Al-Ahkam (Tafsir), dan beberapa kitab-kitab lainnya.

Adapun program tahfidz adalah program khusus bagi mahasiswa yang memiliki hafalan qur’an minimal 5 juz. Metode yang digunakan dalam program tahfidz ini adalah metode Muroja’ah dan Tasmi’. Muroja’ah merupakan metode pengulangan, yaitu mengulang kembali hafalan qur’an dan menyetorkannya kepada pendidik dan metode Tasmi’ adalah memperdengarkan hafalan qur’an kepada teman-teman dalam satu majelisnya untuk dikoreksi secara bersama-sama. Selain program kajian kitab dan tahfidz adapula program Baca Tulis Qur’an (BTQ). Program BTQ yaitu program wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa yang tidak lulus Placement Test BTQ yang dilakukan saat pertama seleksi penerimaan mahasiswa baru. Materi yang diajarkan dalam program ini adalah mengenai Ilmu Tajwid dan Ilmu Ghorib.

Awal mula kegiatan kajian kitab Turots sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012. Saat itu kajiannya bekerjasama dengan mahasiswa jurusan Akhlak dan Tasawuf yang sekarang berubah nama menjadi Tasawuf Psikoterapi. Namun karena banyaknya peminat saat itu, sekitar 275 lebih mahasiswa kajian kitab kemudian dialihkan ke Aula Pasca Sarjana. Karena respon positif dari mahasiswa mengikuti kajian kitab, akhirnya pada tahun 2016 mulai diback up oleh kampus secara resmi. Seiring dengan alih status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalogan, Kajian Kitab mengalami perkembangan, yaitu berbasis program studi. Mahasiswa diarahkan untuk mengikuti kajian Kitab Turots yang sesuai dengan Program Studinya. Misalnya untuk mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), maka kitab yang ditawarkan adalah Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, sementara khusus untuk mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab ditambah dengan mengkaji kitab ‘Imrithy dan Nadham Maqshud.

Sedangkan untuk Fakultas Syari’ah (FASYA) maka kitab-kitab yang dikaji adalah kitab yang berbicara tentang hukum-hukum syari’at seperti Taqrib dan al-Waraqot, karena didalamnya banyak memuat kajian-kajian hukum mu’amalah. Sementara bagi mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah kitab yang dikaji tentunya yang berkaitan dengan ilmu Hadits (seperti: Arba’in Nawawi, Abi Jamrah, dan al-Baiquni), ilmu Tafsir (Tibyan Fi ‘Ulum Al-Qur’an dan Tafsir Ayat al-Ahkam), ilmu Tauhid (Bayan al-Mufid), ilmu Dakwah (Idhah al-Nasyi’in dan Zad al-Zu’ama’), dan ilmu Tasawuf (Kifayah al-Atqiya’).

Kajian kitab turots, tahfidz dan BTQ yang memiliki slogan “gerakan kampus mengaji.” yang berarti semuanya bergerak bersama untuk mengaji, kedepannya akan terus berupaya untuk membumikan kitab kuning dan terus berupaya mengembangkannya dan didukung dengan kebijakan-kebijakan yang strategis. Salah satunya dengan mengeluarkan SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) yang mana dari SKPI ini akan menambah nilai lebih bagi Ijazah.

“Mahasiswa yang mengikuti kajian kitab turots mendapatkan semacam sertifikat, yaitu surat keterangan pendamping ijazah atau SKPI yang mana menjadikan nilai lebih bagi ijazah. Karena disamping dia punya sertifikat BTQ, dia punya surat keterangan yang menyatakan bahwa dia itu pernah mempelajari suatu kitab, inikan bisa menjadi nilai lebih juga bagi mahasiswa.”, tutur Kyai Mujib Hidayat selaku koordinator Kajian Kitab Turots, Tahfidz dan BTQ saat ditemui di ruang Sekretariat Kajian Kitab Turots, Tahfidz dan BTQ, pada Senin (19/2).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>