Puisi, Sastra

Dingin

Photo by : pxhere.com

Malam, bayu, rintik, senyap, gulita
Merayap seluruhnya melebur tak berupa
Pekat, hitam berarak.. Dewi malam tak menyapa
Tulang tertusuk hawa dingin merinding
Rumah tak terasa lagi berdinding
Selimut tebal hangatnya asing
Dingin petang ini memang benarlah dingin
Namun kau tau bung?
Ada yang lebih dingin dari tembusan hawa
Pada ventilasi
Ada yang lebih gelap
dari pekatnya malam senyap
Kau tau bung? Itu lebih menyiksaku
Membekukan bukan hanya tulangku, pun relungku
Ia hadir darimu, dari dirimu.. bernamakan sikap
Yaa.. sikapmu yang nian dinginnya
Nian tajam pekatnya, kala melingsir untukku
Teramat dingin bung
Rasanya ingin ku lingkarkan api unggun
Atau ku tepikan rasa ini di tungku perapian
Sebab dinginmu tak kian tamat
Sikapmu tak kunjung menghangat

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>