Artikel, Unek-Unek

Dua Mata untuk Anak Luar Biasa

Photo by: Riaumandiri.co

Beberapa waktu lalu saya main ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Pekalongan untuk menemani teman saya penelitian. Hari itu adalah kali pertama saya masuk ke sana. Ada rasa senang, khawatir, haru, dan kagum yang menyelimuti langkah serta pandangan saya. Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar “Anak luar biasa”? Bisa jadi kita memiliki spekulasi yang bermacam-macam. Namun di sini, ijinkan saya untuk mengulas sedikit pengalaman saya.

Baiklah. Cerita akan saya mulai dari awal, sejak saya memarkirkan motor. Kala itu teman-teman saya sudah menunggu di dalam. Saya terlambat. Pemandangan yang pertama kali saya lihat adalah dua siswa SLB yang sedang berkelahi. Tapi tak nampak sedikit pun mimik muka marah. Mereka berkelahi dengan tertawa. “Seperti itu kah perkelahian anak luar biasa?” pikir saya.

Setelah bertanya di mana ruangan Tata Usaha (TU) kepada salah seorang wali murid, saya disuguhkan pemandangan yang -kalau saya boleh mengatakannya- sangat langka. Nampak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Salah satu dari mereka ada yang di depan dan memperagakan gerakan tangan, sedang yang lain membacanya. Mereka sedang belajar SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dibimbing oleh dua guru SLB.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Oliv, guru SLB tersebut. Gagasannya muncul ketika dia menangkap kesalahpahaman orang tua kepada anaknya yang tunawicara. Bahasa isyarat yang digunakan orang tua nampak kacau, padahal bahasa ini merupakan sarana penting berkomunikasi. “Kita nggak bisa memaksakan mereka (anak berkebutuhan khusus) -yang minoritas- bisa memahami kita. Tapi cobalah kita yang mayoritas, masuk ke dalam dunia mereka dan memahami apa yang mereka butuhkan,” ucap Oliv saat kami temui setelah mengajar. Di dunia ini tidak hanya ada anak luar biasa melainkan juga orang tua dan guru yang tak kalah luar biasa.

Rekreasi saya tidak berhenti sampai di sana. Kami masuk ke dalam kelas dan mencicipi belajar bersama mereka. Tidak ada yang berbeda dengan sekolah biasa. Mereka duduk rapih dan menaati peraturan guru. Bahkan ketika salah satu di antara mereka memiliki permen, dia berbagi kepada teman-temannya. Dia juga meletakkan permen itu di meja guru. Ketika seorang temannya yang berjalan menggunakan kursi roda pun, mereka saling membantu untuk memapah teman tersebut. Sudahkah kita yang memiliki kesempurnaan secara fisik mampu melakukan hal-hal sederhana semacam itu?

Komentar