Opini, Unek-Unek

Tahun Politik, Tahun SARA Khusus Islam?

Apa yang terjadi di negeri kita hari ini, kemarin, dan beberapa hari yang lalu? Masih saja berkutat di persoalan Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) yang kembali dibesar-besarkan. Pelakunya tak hanya tokoh politik, tapi artis pun kini ikut menyemarakkan tahun politik ini dengan isu SARA yang relatif mudah mencuat dan membuat geger. Sebut saja, Joshua Suherman, yang baru-baru ini melakukan semacam Stand Up komedi (padahal dia seorang penyanyi) yang dinilai menistakan salah satu agama di Indonesia. Atau kita tilik yang benar-benar seorang Komika, Ge Pamungkas, yang tersenggol dan kembali harus dikecam masyarakat, karena lagi-lagi dianggap menistakan salah satu agama di Indonesia.

Anda pasti tahu, agama apa yang dimaksud, tanpa saya perlu menyebutkannya. Tapi saya rasa, saya perlu mengulas, agar kasus yang demikian ini mungkin tidak terulang kembali. Agama apakah itu? Ya, yang dimaksud adalah Islam. Lagi-lagi hanya agama Islam yang mempersoalkan urusan SARA. Disebut melecehkanlah, menghinalah, menistakanlah. Tapi jujur, saya tidak bermaksud untuk mencibir, mengejek, apalagi keluar dari agama Islam. Namun, yang saya sayangkan dan masih menjadi pertanyaan besar adalah, sebegitu sensitifkah pemeluk agama Islam di Indonesia? Dan apa sesungguhnya yang jadi persoalan?

Kalau sebagai umat Islam yang benar-benar sudah cinta akan Islam, hal itu wajar. Kalau ada orang lain yang menghina apalagi menista agama seseorang yang dia peluk, pasti semua orang yang seagama dengan orang yang agamanya dihina sudah tentu akan marah, menghardik, dan minimal mengumpat. Walhasil, membuat keadaan semakin keruh. Beberapa hari yang lalu, saya sempatkan untuk browsing di Youtube, tentang video cuplikan yang katanya menghina agama Islam itu, baik dari Ge maupun punyanya Joshua. Dari kedua video itu, saya sudah bisa menerka kalau komentar-komentar dibawahnya pasti isinya mengumpat yang bersangkutan, walaupun di video lain yang menerangkan klarifikasi dari si artis, pun tetap saja ada umpatan, hinaan, dan cacian bertubi-tubi menghantam. Saya tidak sanggup memperkirakan, yang berkomentar demikian itu, beneran umat Islam yang merasa tersinggung, atau orang yang sengaja ingin memperkeruh suasana.

Tapi pertanyaan saya cuma satu, sebegitu sensitifkah umat Islam? Sebentar, sebelum beranjak, kenapa saya disini mengatakan umat Islam? Karena tentu yang namanya umat Islam itu berbeda dengan Islam. Jadi nanti, yang perlu diperbaiki bukan Islamnya, tapi orang-orang yang mengaku umat Islam. Artinya subjeknya yang perlu direparasi dan bila memungkinkan perlu juga didekonstruksi. Nah, persoalannya adalah, yang dibela itu Tuhan, Agama Islam, atau segolongan umat Islam?

Jika posisinya itu membela Tuhan. Ya bisa perlu, bisa juga tidak, bergantung individunya. Bila mengambil asumsi dari Sujiwo Tejo yang notabene bukan seorang ulama, apalagi nabi, bahwa Tuhan itu tidak perlu dibela, Dia sudah Maha Besar. Dan asumsi Sujiwo Tejo ini senada dengan pemikiran Gus Dur, bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Sebagai manusia, kita tidak memiliki hak untuk membela Tuhan. Karena kemampuan manusia masih secuil dan Tuhan pun tidak butuh dibela. Sedangkan kekuatan-Nya jelas tak perlu diragukan, saya rasa Tuhan sangat berkuasa untuk membela diri-Nya sendiri.

Lain soal kalau agama Islam yang dibela, bagi saya sebagai orang yang dilabeli Islam, tentu merasa tersindir dan terhina, bila Islam yang saya peluk itu dilecehkan sewena-wena. Kalau yang satu ini ada aturannya, ada ketentuannya, ada nomenkelaturnya, ada prosedurnya. Bergantung pada budaya umat Islam disekitar, kalau di Indonesia kan budayanya agak kurang santun, dan mau bagaimanapun yang menghina agama mesti dihukum, dipenjara, atau setidak-tidaknya diberi sanksi.

Nah, Ge dan Joshua sudah memperolehnya. Mereka secara sanksi sudah mendapatkannya, walau secara tata hukum aturan mereka belum ditindaklanjuti. Kedua orang itu jelas sudah terkena sanksi sosial, yaitu dihina, dicibir, diejek, beruntung tidak dikucilkan. Dalam teori sosial, sanksi sosial ini ternyata lebih berat dari hukuman penjara dan sebagainya, namun kadar beratnya masih dibawah sanksi dari Tuhan. Bagi saya, itu cukup untuk mengadili dua orang itu. Urusan hukuman dari Allah, ya tinggal kita serahkan saja kepada Allah. Kita tidak bisa memutuskan si penista agama itu harus masuk neraka, harus disiksa kubur, atau sebagainya, karena itu bukan wilayah kita. Namun, sebagai sesama yang seagama dengan mereka, kita hanya sanggup berdoa, agar dua orang itu diberi hidayah oleh Allah.

Terakhir, kalau yang dibela itu segolongan umat Islam, ini yang gawat. Artinya umat Islam sudah mulai terkotak-kotakkan. Mereka sudah tak memerdulikan Agama Islam, ataupun Tuhan itu sendiri. Pokoknya, kalau kelompoknya dihina, komunitasnya dihina, grupnya dihina, itu sudah menghina Islam. Asumsi demikian jelas keliru. Islam itu bukan kelompok A, bukan grup B, bukan komunitas C, bukan pula mazhab D. Islam itu ya Islam. Tidak ada yang benar diantara sekelompok Islam, apalagi penilaian benar salah itu dari kelompok Islam yang lainnya. Hanya Tuhan yang sanggup dan berhak menilai Islam mana yang benar. Manusia tak perlu seenaknya mengambil hak prerogatif Tuhan atas kebenaran itu.

Indonesia sedang terjadi sebuah polarisasi seperti itu. Apalagi tahun 2018 yang digadang-gadang sebagai tahun politik, membuat isu-isu semacam SARA seenaknya muncul-hilang, dan hilang-muncul. Umat yang merasa tersindir, akan balik mengecam, begitupun sebaliknya, kaum yang merasa dikecam akan menyerang balik. Kalau seperti itu terus, tak ada habisnya. Tinggal tunggu saja waktu saat Indonesia ini hancur lebur. Sikap toleransi yang hanya dibuat dan diada-adakan tak cukup untuk mencegah hal itu. Para pelaku politik yang mempersenjatai strategi politiknya dengan isu SARA makin merajalela dan menjadi-jadi. Pikir mereka, bila sudah kuasai sekelompok umat, apalagi yang berbau agama dan kepercayaan, para pelaku politik sudah merasa punya adikuasa, tinggal tekan pegasnya, tembak, dan menang sudah.

Masyarakat harus jeli melihat kondisi seperti itu. Jangan sampai kita berhasil teradu-domba oleh elit politik. Karena walau bagaimanapun, para elit politik yang bersenjata isu SARA tak mau ambil pusing, mereka hanya mau menang, yang berjubel di otak mereka cuma menang, menang, dan menang. Jarang ada orang yang demikian itu berpikir akibat dari  apa yang mereka perbuat itu. Masyarakat yang masuk kedalam sebuah umat atau kaum yang merasa dilecehkan, lebih baik sabar dulu, jangan asal menjustifikasi, mencibir, bahkan memusuhi orang yang menghina agama. Perhatikan dulu konteksnya, substansinya, atau sekecil-kecilnya dengarkan dulu alasannya.

Bila yang menghina agama itu sudah mengutarakan alasannya dan ternyata tidak bermaksud menghina, sebagai manusia yang tak punya adikuasa apapun, ya apa sulitnya memaafkan? Toh, urusan hati, mau dia benar tidak bermaksud menghina, atau sungguh-sungguh menghina, itu bukan urusan masing-masing individu, biar itu menjadi tugas Tuhan. Biar Allah Yang Maha Mengetahui lah yang andil dalam permasalahan ini. Kadang manusia enteng sekali menyebut kamu masuk neraka, akan dilaknat, dan akan disiksa oleh Allah. Mereka lupa kalau semua itu bermuara ke Allah, jadi ya terserah-serah Allah, mau melaknat kek, mau menghukum kek, menyiksa kek, terserah. Sebagai manusia tak bisa ikut andil, tak sanggup ikut merumuskan bareng sama Allah, sekalipun manusia bernegosiasi dan mempresentasikan kesalahan-kesalahan orang itu dihadapan Allah, tetap Allah-lah yang memutuskan.

Perkara hukum, biar negara yang mengurus itu. Tengok saja kasus penistaan agama sebelumnya yang menyeret mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (baca: Ahok). Negara sudah membuktikan untuk campur tangan dan pungkasnya berhasil menjebloskan Ahok ke penjara. Walau sebelum-belumnya ada aksi besar-besaran yang dilakukan umat Islam, demi menuntut Ahok dipenjara. Mengenai aksi ini, saya jadi ingat pertanyaan saya diawal, sebegitu sensitifkah umat Islam? Dan kenapa pula pertanyaan ini saya tujukan hanya kepada umat Islam? Bukan Umat Hindu, Umat Budha, Umat Kriten, Umat Konghucu, dan umat-umat lainnya.

Pertanyaan itu merujuk pada kondisi dan fakta lapangan. Bahwa umat Islamlah yang mudah tersinggung, alias sensitif. Sejauh ini tak ada kasus penistaan agama yang akan membesar kalau yang dinista itu agama selain Islam. Padahal setiap agama punya kredibilitas yang tak bisa dinista. Bila umat Islam berhak membela Islamnya, kenapa umat yang selain Islam jarang melakukan aksi, “Aksi Bela Kristen” atau “Aksi Bela Hindu” misalnya. Apakah ini karena umat Islam sebagai mayoritas? Dan masih pentingkah kita bahas mayoritas dan minoritas?

Di Indonesia ini sudah tak layak bahas mayoritas dan minoritas. Ingatlah undang-undang kebebasan beragama di Indonesia, itu artinya ada banyak agama di Indonesia, tidak hanya Islam. Jadi, tak perlu lagi membahas mayoritas dan minoritas, toh semua makan di tanah Indonesia, semua berjalan di jalan Indonesia, dan semua berteduh dibawah langit Indonesia. Masyarakat harus ingat itu. Bila perlu mulai mengaplikasikannya, caranya minimal tak mudah tersinggung, itu sudah cukup. Sebelum menumbuhkan sikap toleransi, putar dulu akal kita. Analisis dulu persoalannya, cari tahu penyebabnya, tidak bisa langsung menghardik begitu saja. Membiarkan dalang dibalik isu SARA duduk leyeh-leyeh dan ongkang-ongkang kaki sambil menunggu momentum merangkak naik ke singgasana.

Penulis: Muh. Arsyad

Editor : Sabrina

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>