Agenda

Nguri-uri Budaya Macapat Melalui Teather

Budaya Macapat
Dok.Pribadi Cupman

Perkembangan digital semakin meningkat, kemajuan teknologi juga kian pesat tapi amat disayangkan kebudayaan dan adat istiadat semakin luntur di kalangan tunas bangsa. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa kebudayaan kita -khususnya kebudayaan Jawa- bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal sebenarnya didalamnya itu terdapat nilai-nilai luhur yang amat erat kaitannya dengan ajaran Islam. Berangkat dari hal demikianlah ada segelintir orang yang amat giat dalam mengikrarkan kembali kebudayaan yang kian hari kian hangus dari pandangan masyarakat. Salah satunya adalah para seniman dari Salatiga yang tergabung dalam Teather Ruang Hening. Mereka dengan penuh semangat mengadakan pentas ke berbagai wilayah, baik itu ke kampus-kampus, masyarakat maupun ke sekolah-sekolah.

“Sejauh ini kita sudah ke beberapa daerah, bulan lalu kita tampil di Semarang. Kalo untuk kampus kita udah ke beberapa kampus, seperti di UPGRIS, POLTEKES, dan IAIN Pekalongan ini. Untuk terjun ke sekolah inshaaAllah akan kami laksanakan dua bulan yang akan dating,” papar Pandi selaku salah satu aktor dalam pentas tersebut.

Sabtu (10/3/2018) menjadi malam yang dinantikan oleh calon penonton Pentas Tiban Teather Ruang Hening yang diselenggarakan di auditorium kampus utama IAIN Pekalongan. Pentas yang digelar selama tiga jam itu mampu memikat perhatian semua awak yang menyaksikan.

“Kalo yang aku tangkap itu pentasnya menampilkan tentang Macapat Mijil, Asmaradhana sama Megatruh. Yang paling mengena banget itu yang Megatruh soalnya itu kan ceritanya tentang kematian, pembawaannya bener-bener menjiwai dan bikin merinding,” pungkas Uswatun, mahasiswa jurusan Ekonomi Syari’ah yang turut menjadi penonton pada pentas malam itu.

Melalui pentas teather inilah para seniman berharap agar kecintaan masyarakat terhadap budaya dapat kembali merekah seperti sedia kala. Pandi mengutarakan bahwa biasanya mereka menampilkan konsep monolog sebagaimana pada dua pentas awal, yaitu lakon mijil yang menceritakan kisah kelahiran baru dan asmaradhana yang mengisahkan perihal menanam harapan yang diperankan oleh Sutrisno (salah satu aktor yang usianya delapan tahunan) sebagaimana pada dua pentas sebelumnya. Namun jika dapat berkolaborasi dengan aktor dari pihak yang diajak kerja sama maka mereka akan menampilkan lebih dari dua pentas, seperti yang ditampilkan di malam minggu kemarin.

Tentu para pemain membutuhkan persiapan yang sangat matang agar mampu berperan maksimal, sebab penjiwaan itu tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa ada penghayatan. Oleh karena itu mereka berlatih selama tujuh bulan sebelum pementasan. Latihan tujuh bulan ini ditujukan untuk pentas yang monolog, sedangkan pentas yang diadakan secara kolaborasi mereka berlatih dua hari sebelum pentas. Hal ini disebabkan waktu lobying yang dilakukan pihak Teather Hening kepada pihak yang diajak kerjasama tidak terlalu lama dengan waktu pementasan.

“Kalo yang latihan gabungan buat megatruh itu cuma dua hari sebelum pentas dan mereka juga langsung nunjuk aktor-aktornya tanpa casting. Seperti saya yang ditunjuk untuk memerankan ibu pertiwi yang di situ seperti orang gila. Mungin karena sudah bisa memahami pantasnya kita diletakkan dimana lewat raut wajah kita ya,” Papar Aisyah, salah satu pemain yang berasal dari Teather Zenith IAIN Pekalongan.

Waktu yang cukup singkat itu tidak lantas mengurangi citra keindahan dan totalitas dalam pentas. Para pemain memerankan masing-masing jobnya dengan profesionalitas yang tinggi. Mereka mampu menyemai makna yang mendalam kepada penonton agar dapat terbawa suasana. Para penonton diajak turut merasakan apa yang dikisahkan dalam pentas. Pada dasarnya pesan yang syarat didalam pentas tersebut adalah agar penonton terketuk hatinya untuk kembali mengingat budaya yang sudah langka. Serta bagaimana kita sebagai generasi muda dapat melestarikan budaya-budaya tersebut.

Selain itu, didalam cerita yang ditampilkan, penonton juga diajak untuk meresapi bagaimana keadaan ibu pertiwi di hari ini. Merasakan pedih yang sangat menyiksa bumi pertiwi sebab anak-anak bangsa yang semakin hari semakin diambang kelalaian.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>