Puisi, Sastra

Catatan Senja Pak Tua

sumber: google.com

Rahayu mega berselimut pedut

Kawanan camar tak lagi gembita mencumbu semesta

Kini, temaram senja terbujur nista

Erangan alam kian mengangkasa

 

Jiwa-jiwa hanyut terseret ombak nestapa

Nyawa-nyawa hilang tercabik lapar

Adegio penuaan bumi semakin menjadi

Kerontang miskin semakin berapi-api

Duhai, amatlah rapuh dan terkoyak hati pak tua

Meratap pilu detiknya bersua ke peraduan

 

Sang cucu kian terbuai jendera.. tak teranggap lagi nasihatnya

Hendak menegur, si cucu menguliti

Pandai berdalih, berasas adat pak tua bukanlah tuntunan

Tanpa merenung bahwa lestarinya tenteram pun sebab pak tua

…gulana pak tua terus membuncah

Katanya “cucuku mengaku pendekar diin nya..

Tapi lupa akan kasih pada sesama,

Kepada siapa ia boleh titipkan damai alam yang dulu?

Sedang gelap kian mengepung.. dan pak tua pasti kan berpulang

Tapi pilu menyayat relung mengoyak ruang fuadi,

 

Mei Khasanatun Nisa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>