Resensi, Sastra

Menjadi Mahasiswa Biasa: Soe Hok Gie

Ilustrasi buku Zaman Peralihan, Soe Hok Gie. FOTO: bukalapak.com
Ilustrasi buku Zaman Peralihan, Soe Hok Gie. FOTO: bukalapak.com

Orang-orang besar terlahir untuk hal-hal besar.

Tahun mulai berubah perkembangan zaman membawa kita ke era dimana informasi komunikasi berjalan lebih cepat dari yang perkiraan. Hal ini membuat masyarakat bingung akan wajah bangsa sebenarnya. Kejadian ini juga ditunjukkan oleh kaum intelektual kita terutama di lingkup kampus dikota-kota kecil.

Mahasiswa sebagai tonggak pemulihan komunikasi kemasyarakatan menjadi apatis terhadap keadaan sosial disekitarnya. Mereka yang terjebak dalam heroik dan kemelut para sang orator ulung tempo dulu seakan lebih suka melihat persoalan kebangsaaan ditingkat nasional. Mereka lebih antusias mencari info dari permasalahan yang dibincangkan di kota-kota besar tapi kepekaan mereka akan permasalahan kondisi sehari-hari didaerah mereka tempati tidak begitu mengerti mungkin juga karena efek gadget yang sering mereka amati. Arus zaman mulai cepat berlalu, hari demi hari pun dirasa cepat terlewat.

Terkadang kebingungan sengaja diciptakan untuk mengkondisikan. kebingungan Yang sengaja diciptakan agar berdampak pada fokus dan perhatian publik yang mudah teralih mudah melupa akan suatu kejadian.

Hok gie bermimpi tentang kejayaan mahasiswa akan semakin berkembang dari tiap periodenya. Dahulu mahasiswa menjadi pengawal kinerja dan pengamat taktik kotor para cukong, pengemban cita kebenaran dan keadilan, menumpas kejahatan pembela kebenaran dalam sejarah heroiknya. Keadaan zaman berubah sedemikian rupa, dengan kondisi birokrasi bangsa sudah tak separah dulu lebih tenang dan kebebasan mimbar menjadi hal yang amat nyaman dinikmati. Maka langkah yang tepat adalah pembangunan intelektualitas di butuhkan lebih dari sekedar teori. Bukan masanya lagi dimana kaum teknokrat makin merebah dan beranak pinak.

Sekarang adalah masa dimana mahasiswa tumbuh menjadi manusia-manusia biasa. Menjadi pemuda dan pemudi yang bertingkah laku normal, seorang manusia normal yan tak mengingkari eksistensinya sebagai seorang mahasiswa, sebagai pemuda, dan sebagai manusia seutuhnya (hlm. 142).

Layaknya pemuda normal, mahasiswa ini semoga tidak impotent berekembang dengan idealisme, cita-cita dan ambisi yang tinggi. Mereka yang setiap hari menuntut ilmu dari pagi sampai sore/malam tidak mengingkari posisinya sebagai penerus bangsa. Dimana seorang mahasiswa antropologi mengharapkan akan melakukan field work diaerah terbelakang di irian barat, menolong keadaan sosial di daerah tersebut.

Mahasiswa ilmu alam berharap akan bekerja dan mengadakan riset dalam bidang tenaga atom, untuk perkembangan teknik, dan mahasiswa-mahasiswa fakultas hukum yang mengharapkan akan menegakkan hukum diindonesia bukan atas hukum tidak tertulis yang mudah diadaptasikan dengan objek ataupun subjeknya (hlm.120). Mahasiswa ekonomi yang mengharapkan menciptakan pembaharuan sistem, kreativitas dan inovasi dalam pemberdayaan masyarakat demi meminimalisir pengangguran.

Mahasiswa-mahasiswa biasa layaknya pemuda normal yang memiliki cita-cita, tak melulu terjebak dalam patriotisme kaum mahasiswa tempoe doeloe. Mahasiswa sekarang harus sigap menyikapi zaman, tetap kritis dalam pemikiran dan pandangan akan pembenahan.

Mereka tidak boleh hanya bisa mengkritik atau hanya sekejar mencibir saja, ikut terhanyut arus pemikiran importent, dimana pagi kuliah pulang sore kemudian nyantai dirumah terulang-ulang seperti itu terus setiap harinya sapai lulus dan mencari pekerjaan seperti lainnya lalu berakhir disiklus pengangguran menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang.

Disanalah role model penting mahasiswa harus dijalankan, menjadi alat komunikasi kemasyarakatan yang tepat, sosok yang patut diandalkan masyarakat ketika pemerintahan dan kaum tua dirasa tak mampu lagi. Pembelajaran akan hal inilah yang seharusnya dijalankan dan diberikan di tiap organisasi-organisasi mahsiswa demi menimbulkan rasa patriotisme tapi dalam warna yang berbeda. Menjadi pemuda dan mahasiswa biasa bukan hanya belajar tetapi kita juga memiliki hak melakukan kegiatan-kegiatan yang wajar olahraga, menonton film, mendaki gunung, gotong royong masyarakat berncada tertawa hanya karena hal sepele.

Bukan melulu diskusi tanpa implementasi bukan pula karena kita pemuda seakan bebas melakukan segalanya termasuk melacurkan diri. Menjadi manusia-manusia berkepribadian, namun tak berlebihan. Dikumpulan tulisan soe hok gie tentang zaman peralihan inilah dia mencoba menegaskan peran mahasiswa dalam kemelut kebangsaan dan lelucon politik yang menyita banyak korban.

Dalam tulisannya dia ingin menggambarkan bagaimana tiap kejadian-kejadian politik memakan korban ditahun 60an, pembantaian PKI di bali, Kup yang dilakukan Gestapu, penjatuhan soekarno, rayuan para penguasa akan mahasiswa, dan bagaimana politik dijalankan pada jaman peralihan orde lama ke orde baru. Serta menegaskan Selaku kaum intelektual mahasiswa selayaknya menempatkan dirinya menjadi pembela rakyat mengawal pemerintahan yang sedang dimainkan.

Mahasiswa yang diharapkan bisa mengatasi segala persoalan yang menyangkut statusnya selaku mahasiswa, kemudian sebagai pemuda warga negara indonesia diaharapkan memposisikan peran pentingnya untuk meneruskan bangsa, dan statusnya yang sebagai manusia seutuhnya harus paham mana yang hak dan yang batil dalam persoalan kemanusiaan.

 

Kami mahasiswa perlambangan cita

Kejar ilmu pekerti luhur ‘tuk nusa dan bangsa

(Genderang Mahasiswa, Hlm. 151)

Mahasiswa Indonesia-jum’at wage, Januari 18

 

Judul                     : Soe Hok Gie Zaman Peralihan

Penerbit              : Gagas Media

Tebal                     : 315 hlm.

ISBN                      : 979-3600-82-9

Cetakan               : juni, 2005

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>