Cerpen, Sastra

Doa Seekor Kutu

Ilustrasi Kutu, sumber foto: http://muchsuprobo.blogspot.co.id

Seekor kutu berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan, bila diperkenankan, ingin rasanya hamba tinggal di sela-sela rambut nabi-Mu, hamba yang Paduka muliakan itu. Hamba berjanji tak akan membuat kulit kepala beliau gatal-gatal, Tuhan.”

Setelah berdoa, si kutu ini pun kaget bukan kepalang. Ratusan bahkan ribuan kutu telah mengerubutinya. Ia menjadi pusat perhatian bagi kutu-kutu lain.

 

Bingung dengan keadaan itu, si kutu pun bertanya pada salah satu di antara kerumunan kutu itu,

“Lho ada apa dengan kalian?”

Salah seekor kutu menjawab,

“Kami baru saja mendengar doa yang kau panjatkan pada Tuhan.”

“Terus apa ada yang salah dengan doaku?” tanya si kutu itu.

“Tidak. Tidak ada yang salah. Tetapi, kami merasa terpanggil oleh doamu itu,” jelas si kutu yang lain.

“Terpanggil? Apa maksudnya?”

 

Tetapi, kami merasa terpanggil oleh doamu itu

 

Si kutu yang mewakili kawanan kutu lainnya itu pun tersenyum. Lalu berkata,

“Kalau dibolehkan, kami juga ikut tinggal bersamamu di celah-celah rambut sang nabi.”

“Apa?!” sahut si kutu kaget.

 

“Jangan khawatir, kami janji, kami tidak akan membuat kulit kepala nabi gatal-gatal. Ya, seperti janjimu kepada Tuhan.”

 

Tanpa satu pun kata terucap, si kutu pendoa itu sekonyong-konyong meninggalkan kerumunan.

“Hei! Kau mau ke mana?” seru kudu yang lain.

“Aku ingin menenangkan diri!”

“Apa kami salah?”

 

Pertanyaan itu diabaikannya. Ia terus saja melangkah. Menjauhi kerumunan. Mencari tempat paling sepi. Lalu, kembali ia berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan, kalau doaku tadi membuat mereka cemburu, mungkin lebih baik tak Kau kabulkan permohonan hamba ini, Tuhan. Biarkan hamba tinggal di rambut-rambut yang lain. Apalah jadinya jika rambut nabi-Mu akan dipenuhi dengan kutu, sungguh tak bisa hamba bayangkan. Maka, ampunilah hamba ya Tuhan.”

Rupa-rupanya doa itu pun didengar oleh beberapa ekor kutu. Tak terima dengan doa itu, mereka pun meringkus si kutu itu.

Pekalongan, 18 Oktober 2017

 

Ribut Achwandi

(Pegiat sastra kota Pekalongan, dosen di program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Pekalongan, dosen di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pekalongan)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>