Resensi, Sastra

Kehidupan Dokter yang Getir

FOTO: bukalapak.com

 

Siapa yang tidak mengenal Ibnu Sina? Ilmuwan yang kecerdasannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia adalah seorang ilmuwan kedokteran sekaligus filsuf yang karyanya hingga sekarang masih dapat dipergunakan. Namun, siapa mengira buah semua karyanya itu ditulis dengan penuh kegetiran, masih sedikit kisah yang mencoba menelaah bagaimana seorang Ibnu Sina mampu menulis karyanya dengan segala keadaan yang jauh dari kata aman.

Penulis melalui novel ini mengurai secara jelas rekam jejak perjalanan hidup seorang Ibnu Sina yang dengan kecerdasannya mampu menghasilkan banyak sekali karya walau dengan keterbatasan sarana.

Lahir dengan nama Abu Ali, sosok figur seorang anak yang sangat didambakan oleh seluruh orang tua di dunia. Termasuk kedua orang tuanya, Sattarah dan Abdullah.

Terlahir di sebuah kota, yaitu Bukhara, Abu Ali kecil mulai menimba ilmu disana. Namun, kecerdasannya yang sudah terlampau batas membuat Abdullah ayahnya, bingung. Karena semua guru bahkan syekh terkemuka di Bukhara sudah tak mampu lagi mengajarkan ilmunya kepada Abu Ali.

Kemampuan Abu Ali itu tak lepas karena dia sering membaca buku di malam hari. Itulah yang membedakan Abu Ali dengan yang lainnya.

Abu Ali sangat banyak membaca buku, terlebih mengenai ilmu kedokteran.

Kehebatannya dalam ilmu kedokteran sudah ia praktekkan ke seluruh masyarakat.

Pasca Ayah Abu Ali Wafat

Kabar kehebatan Abu Ali ini melebar sangat cepat, bahkan hingga sampai ke istana. Raja Nuh II yang kala itu memimpin sedang sakit keras. Seluruh dokter yang datang tak bisa mengobatinya. Sampai pada akhirnya Abu Ali datang untuk memeriksa sang raja. Setelah diperiksa dan diberi obat oleh Abu Ali, raja pun berangsur-angsur sembuh.

Waktu terus berjalan, hingga Raja Nuh II sudah tidak memimpin lagi, dan digantikan Manshur. Namun, Manshur tak bertahan cukup lama, karena polemik dan konspirasi yang dilakukan oleh para petinggi istana membuat Manshur turun, dan digantikan Abdul Malik.

Pemerintahan Abdul Malik membawa petaka bagi Abu Ali. Hingga suatu saat Abu Ali yang tengah duduk ditangga perpustakaan bersama sahabatnya, yaitu Abu Sahl melihat asap yang mengepul diatas gedung perpustakaan Samaniyin, dan perpustakaan tersebut lekas terbakar.

Masyarakat disana yang saat itu termakan oleh hasutan Mahmud Ghaznawi memaksa menuduh Abu Ali pelaku pembakarn tersebut.

Setelah terbakarnya perpustakaan, kini Bukhara dilanda paceklik. Saat itu pula, ayah Abu Ali menderita penyakit. Justru mengenai kejadian ini, Abu Ali tak bisa menyembuhkan ayahnya tercinta, sampai pada akhirnya Abdullah pun wafat.

Dengan wafatnya sang ayah kehidupan Abu Ali sangat mencekam, terlebih harus mewaspadai ancaman dari Mahmud Ghaznawi yang ingin menangkapnya. Untuk itu, Abu Ali lekas meninggalkan Bukhara dan menuju Gurganj. Mulai dari sinilah Abu Ali hidup nomaden.

Petualangan Dimulai

Dalam pengejaran Mahmud Ghaznawi, Abu Ali sempat merasakan kepedihan ketika harus berpisah dengan sahabatnya, yaitu Abu Sahl di sebuah gurun pasir menuju Gurganj. Dia sempat hampir mati melalui gurun pasir, dan sempat ditangkap untuk diserahkan kepada Mahmud Ghaznawi, namun berhasil diselamatkan oleh seorang laki-laki.

Di sepanjang petualangannya menjelajahi dunia, dia selalu membuka praktek kesehatan. Abu Ali secara ikhlas menolong warga yang sakit disekitar tempat ia bermukim, kadang di Isfahan, Ray, bahkan di Hamdan.

Petualangan Abu Ali tak hanya bertemu dengan orang-orang penting yang tamak, serta orang-orang yang hanya mau memanfaatkan ilmu kedokterannya. Tapi, lebih dari itu, ketika berada di suatu tempat Abu Ali mendapati seorang gadis yang nampaknya cantik, keadaannya sedang sakit parah.

Saat itu Abu Ali datang untuk mengobatinya, dan ternyata Abu Ali menjadikannya seorang istri setelah sembuh. Gadis itu juga yang menemani Abu Ali disepanjang perjalanannya. Selain itu, Abu Ali juga tak pernah menarik upah dari pekerjaannya sebagai dokter, tapi terkadang orang merasa iba dengan dirinya dan memberikannya upah atas pertolongannya menyembuhkan orang sakit.

Mendekam Tahanan dan Berkarya

Walau dengan kerasnya lika-liku kehidupan, serta tamaknya para pemimpin saat itu, tak menyurutkan niat Abu Ali untuk terus berkarya, termasuk menulis. Keluar masuk tahanan sudah menjadi hal yang lumrah dialami seorang filsuf ini. Abu Ali sebagai seorang penolong atau penyelamat nyawa seolah tak berharga di mata pemimpin tamak itu.

Abu Ali seakan tak pernah lelah dan mengeluh walaupun berada di dalam bui. Termasuk ketika dia dijebloskan ke penjara benteng Fardajan. Di benteng dengan pengawalan yang cukup ketat ini, serta kondisi yang sudah keluar dari kata layak ditinggali, Abu Ali tetap menuliskan buah dari pemikirannya.

Salah satu karyanya yang ditulis ditempat memuakan ini adalah Dalil al-Aqli, dia menuliskannya pada malam pertamanya di penjara Fardajan.

Lebih dari empat bulan ia berada di dalam jeruji besi Fardajan, sampai akhirnya dia menyelesaikan bukunya yang lain yaitu Hayy bin Yaqzhan.

Buku yang ia selesaikan setelah keluar dari Fardajan ini menceritakan perjalanan seseorang menuju pencerahan dalam kehidupan.

Itulah segelimit perjalan seorang filsuf dan ahli kedokteran, Ibnu Sina yang terangkum menjadi novel biografi yang sangat ciamik dengan diksi yang beragam dari penulis, membuat pembacanya seolah hadir dan melihat langsung kegetiran seorang Ibnu Sina.

Seorang dokter yang jika dibandingkan dengan kehidupan dokter yang hidup di era sekarang sungguh sangat kontradiktif.

Kesengsaraan, kecemasan, kegetiran selalu mengiringi perjalan Ibnu Sina, beragam cara orang ingin menjatuhkannya. Namun, jika Allah sudah melindungi hambanya, itu tidak akan terjadi, dan Allah telah melindungi Ibnu Sina.

Tak pernah lapuk karyanya, bertahan tak ada yang berani membantah karya dari Ibnu Sina. Filsuf, ahli Mantiq, Fiqh, dan Kedokteran yang selamanya akan dikenang dan dipakai. Hasil dari buah pemikiran Ibnu Sina tak hanya dinikmati oleh orang muslim dan dokter muslim saja, melainkan semua orang diseluruh dunia mengakui dan menggunakan kehebatan dan kecerdasan Ibnu Sina. Tapi, bukan Ibnu Sina namanya kalau dia tidak merendahkan dirinya dan menyandarkan semuanya atas pertolongan Allah SWT.

Hal inilah yang patutnya dan sangat bagus jika ditiru oleh anak muda zaman sekarang. Terima kasih Ibnu Sina.

 

Judul Buku      : Ibnu Sina: Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Penulis             : Husayn Fattahi

Penerjemah      : Muhammad Zaenal Arifin

Penerbit           : Zaman

Cetakan           : II

Tahun              : 2011

Kota Terbit      : Jakarta

Tebal               : 295 Halaman

ISBN               : 978-979-024-266-1

 

Penulis : Muhammad Arsyad

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>