Puisi, Sastra

MEREKA BILANG

FOTO: lifeasartasia

Ku temui sebuah langgam kemerindingan

Yang mengiyang dalam keheningan

Bukan sebuah suara mistis pula penakutan

Tapi sebuah pilu yang miris para pahlawan

Andai prakatanya masih saja mampu kita baca

Andai raut sedihnya masih pula sanggup kita lihat

Betapa mengecewakannya negeri pertiwi yang subur ini

Bukan hutan, gunung, sawah dan lautannya yang mengundang perih

Tapi ego para tunasnya yang kian membumbung

Menyerikatkan pada permusuhan, bukan lagi perdamaian

Kau tahu? Bila tersebut olehnya (para pahlawan)

 

Begini sendunya meratapi hijau seribu pulau, kini:

“wahai anakku, tidakkah kau tahu?

Betapa lima dasar yang bernamakan pancasila itu terrajut dengan deraian peluh

Dari linangan air mata yang tlah luruh, bahkan buncahan darah tanpa eluh

Kata mereka…

Pernahkah kau ingat?

Bahwa butir butir pancasila lahir dari buah fikir

Diuja kokoh demi tanah air

Terpahatkan pena, ditulis dalam getir

Tapi, rupanya kau tlah lalai dengan makna di dalamnya

‘Saya Indonesia, saya Pancasila’ agaknya hanya kan menjadi lagu di bibir sahaja

Bila esok dan lusa kau unggulkan lagi egomu

Dan kau agungkan lagi rasmu, sukumu, bahkan ormasmu”

Hey. Pancasila sudah lahir, lima dasar itu bukanlah golongan, bukan aliran

Terlebih agama.. segagah garuda pun tak pongah

Meski dibawanya lima dasar itu dalam hilirnya

Sedang kita? Mengaku berpancasila dalam kalam saling menghina

 

Pekalongan, 1 Juni 2017

Oleh: Mei Khasanatun Nisa

 

Tulisan ini bagian dari challenge terkait Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>