Cerpen, Sastra

Beri Aku Waktu Sedetik Saja

Getty Images/iStockphoto

Udara pagi yang menusuk tulang enggan membangunkanku dari tempat tidur ini, meski dengan kasur dan bantal yang agak lusuh. Tak perlu pikir panjang, aku kembali memejamkan mata sambil memeluk guling. Rasanya aku tak ingin melihat dunia yang bagiku terlalu pahit untuk dijalani.

Tak terasa hari sudah siang. Rumah sudah sepi tak ada orang. Ibu bekerja sedangkan adik-adikku pergi ke sekolah. Ku lihat dimeja makan tak ada apapun, begitu juga lemari makan.

“Agaknya hari ini aku harus kembali keliling kota untuk mencari pekerjaan sepulang kuliah nanti” (Gumamku dalam hati).

Toko, pabrik, dan warung telah aku datangi. Namun tidak ada yang membutuhkan karyawan baru.

“Oh Tuhan, Bagaimana ini? Darimana aku mendapat uang untuk membayar kuliah semester depan kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan”.

Hingga malam pun tiba aku masih setia menelusuri jalan ini dengan perut kosong. Tetap tak ku dapatkan jua, akhirnya aku pulang dengan tangan hampa.

Rutinitas ini ku jalani setiap hari sepulang dari kampus. Tak ada teman-teman kampus yang mengetahui keadaanku. Mereka kira aku baik-baik saja. Mereka tak mengerti betapa baju baru, sepatu yang anggun, dan tas cantik yang mereka pakai membuatku iri. Namun apalah daya. Ibuku hanya penjual bakso keliling. Bisa menyekolahkanku dan adik-adikku saja sudah sangat bersyukur. Bagi kami pendidikan itu penting. Apalagi mengingat nasehat almarhum ayahku dulu yang hanya sebagai guru ngaji. “Gajinya memang tak seberapa, namun ilmu yangdiamalkan sangat penting bagi generasi-generasi sekarang ini”, begitu kata Ayah. Terkadang malah kami kelaparan. Kesulitan jika dikejar deadline registrasi kuliah seperti waktu sekarang ini.

“Heyy! Ngalamun aja kamu El” Kata Rima sambil menepuk pundakku.

“Enggak kok, Rim. Cuma masih bingung aja sama tugas yang tadi” Aku berbohong pada Rima, karena pada kenyataannya aku bengong karena memikirkan uang registrasi.

“Udah tenang aja, nanti aku bantuin kok. Makan yuk, laper nih”

“Oke deh. Dimana?”

“Di caffe chocholate sebelah kampus, katanya ada menu baru loh, cobain yuk. Sekalian aku mau ketemu sama Dodit, gebetan baruku”

Aku terhentak kaget. Dodit itu kan yang belum lama ini deketin aku. Dodit selama ini perhatian denganku. Tapi cintanya selalu aku tolak. Bukan apa-apa, aku hanya tak suka pada sikapnya yang kasar, suka meremehkan dosen, dan penampilannya yang amburadul. Memang dulu aku sempat tertarik kepadanya karena perhatiannya yang begitu besar padaku. Tapi lama-lama aku sebal dengan tingkahnya.

“Jadi sekarang dia ganti deketin Rima?” gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin tidak menolak ajakan Rima untuk makan di caffe chocholate. Sekalian melihatnya ketemuan sama pria yang pernah masuk dalam kehidupanku. Tapi melihat dompetku yang kosong, terpaksa aku menolaknya.

“Emm, maaf ya Rima. Aku lupa kalau sore ini aku ada janji sama Ibu. Lain kali aja ya. Maaf aku gak bisa ikut dulu” Kataku berbohong lagi.

“Iya deh. Aku duluan ya” Rima pun pergi meninggalkanku.

Rima memang temanku yang paling baik. Aku dan dia sering bertukar cerita meski hidup kita berbeda. Umur kita juga selisih dua tahun. Dulu dia tidak kuliah disini, kemudian dia pindah kesini dan mengulang dari semester satu. Jadi dia satu angkatan denganku. Tak jarang juga kami saling bantu dalam hal tugas kuliah. Tapi untuk masalah ekonomi, aku tidak pernah bercerita kepadanya.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Masih diselimuti dingin dan membuatku sebal karena lowongan kerja yang belum kudapatkan juga. Aku hanya menemui muda-mudi yang sedang asyik berpacaran dipinggir-pinggir jalan. Sedangkan aku? Bagaimana mau pacaran, memikirkan hidup saja susahnya berbelit-belit.

Tak jauh dari tempat aku berdiri, aku melihat secarik kertas yang menempel di tiang listrik dengan wordArt besar yang bertuliskan “Lowongan Pekerjaan”. Gembira sekali aku melihatnya. Tapi didalam kertas itu tidak terdapat posisi apa yang dIbutuhkan, melainkan hanya disebutkan kriteria, alamat, dan contact person. Kebetulan aku memenuhi kriteria. Tinggi, putih, cantik, dan punya komitmen. Langsung saja aku datangi ke alamat tersebut.

Ternyata aku mendatangi sebuah caffe. Tapi yang kulihat disini banyak yang memegang botol bir. Disini lebih banyak pria daripada wanita. Aku menyerahkan surat lamaran kepada salah satu karyawan disitu. Setelah itu aku disuruh duduk untuk menunggu bosnya.

“Maria Elsa?” Panggil seorang pria berdasi yang tersenyum padaku.

“Iya” Jawabku.

Pria itu masih muda dan gagah. Kutaksir usianya tidak jauh berbeda denganku. Rupanya dia pemilik caffe ini.Kemudian orang itu duduk didepanku. Aku diinterview olehnya. Lama percakapan kami ternyata posisi yang dibutuhkan adalah penyanyi caffe.

“Aku bingung mau terima pekerjaan ini atau tidak, pekerjaan ini terlihat buruk. Apalagi melihat tempatnya yang bagiku kurang nyaman karena disini banyak minuman keras” Pikirku panjang.

Tapi apa boleh buat, pekerjaan ini harus ku ambil karena aku harus mendapatkan uang untuk registrasi kuliah, tekadku harus matang.

Kebetulan kalau masalah menyanyi, dulu aku pernah beberapa kali menjuarai kompetisi menyanyi mewakili sekolahku. Menurutku suaraku tidak terlalu buruk. Aku ditanyai olehnya tentang semua keadaanku. Setelah interview selesai, tiba-tiba aku langsung diterima untuk kerja disini. Jadilah aku seorang penyanyi di caffe “orion” ini, suatu hal yang tak pernah aku duga sebelumnya.

Jangan sampai keluargaku tahu kalau aku bekerja disebuah caffe. Mereka pasti memaki-maki aku. Biarlah ini jadi sebuah rahasia.

“Darimana kamu El?” tanya Ibu sambil batuk-batuk yang tak bisa ditahan.

“Elsa barusan nyari pekerjaan bu, tadi langsung interview. Jadi Elsa pulanghya telat.”

“Kamu melamar dimana El? Sudah diterima?”

“Alhamdulillah Elsa diterima kerja di pabrik roti, Bu. Tapi kerjanya malam hari.”

Aku terpaksa berbohong dengan Ibu. Aku tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya.

“Oh iya, besok adek kamu Fahat sama April disuruh bayar SPP. Sedangkan uang tabungan Ibu hanya segini. Ibu juga belum ada uang untuk bayar kuliah kamu. Kamu ada simpanan gak El?”

“Elsa gak ada uang bu, kan belum masuk kerja” jawabku sambil berat hati.

Langsung saja aku masuk kamar dan mengunci pintu. Ku rebahkan badanku yang lelah ini. Disela lamunanku terlintas wajahnya yang menghantui mata ini. Wajah pemilik caffe itu rupanya membuatku penasaran, siapa dia sebenarnya. Aku sangat ingin mengetahui tentang kehidupannya. Mempunyai muka manis dan tampan, tapi sayang ia pemilik caffe yang didalamnya banyak orang bermaksiat.

“Akbaar, akbar” Tanpa ku sadari ku sebut namanya.

Ia tidak hanya membuatku penasaran, mungkin juga membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Hari-hariku selalu sibuk, sepulang kuliah kemudian kerja. Sisanya untuk merebahkan diri ke kasur. Aku tak pernah membantu Ibuku untuk membuat adonan bakso ataupun sekedar ikut berjualan. Mengurus Ibuku yang sakit-sakitan saja aku tidak pernah. Terkadang aku merasa berdosa sama Ibu. Aku yang diasuhnya sampai sebesar ini tidak berbakti kepadanya.

Setiap hari aku menghabiskan waktu diluar rumah. Sudah jarang aku melihat senyuman Ibu. Tak jarang Ibuku tertidur di ruang tamu karena menungguiku pulang kerja, sekedar ingin melihat wajahku apakah aku baik-baik saja.

Tapi mau bagaimana lagi, jalanku memang seperti ini. Aku harus mewujudkan cita-cita untuk jadi orang sukses yang disisi lain kami kesulitan ekonomi. Padahal biaya kuliah tidaklah murah. Sedangkan beasiswa yang dijanjikan tak kunjung datang. Semenjak Ayah meninggal, Ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Menyekolahkanku dan kedua adikku.

Akbar laki-laki yang baik. Dia sangat perhatian denganku. Tak jarang juga ia mengantarkanku pulang kerumah. Tetanggaku yang melihatnya juga sering menanyakan ada hubungan apa aku dengannya karena aku selalu pulang kerja diantar seorang laki-laki pada dini hari. Bahkan sampai terdengar oleh telinga Ibu.Tapi tak apalah. Selama rahasiaku belum terbongkar, Ibu tak akan marah padaku. Tapi tujuan Akbar baik, dia hanya tak ingin aku kenapa-kenapa diperjalanan pulang, makanya aku selalu diantar kerumah.

Selama aku jalan dengan Akbar, Dodit tak pernah tahu. Suatu hari saat aku makan dengan Akbar di caffe chocholate deket kampus, tiba-tiba Dodit datang sambil marah-marah.

“Elsa ! Ngapain kamu sama dia ? Dia siapa ? Pacar baru kamu ?” sambil menggebrak meja dan menunjuk-nunjuk Akbar.

Rupanya Dodit cemburu melihatku dengan Akbar.

“Siapa laki-laki ini Elsa? Mantan kamu?” Tanya Akbar dengan lirih.

“Pak Akbar, aku belum pernah berpacaran dengan siapapun. Jadi aku tidak punya mantan. Dodit please deh gak usah lebay gitu. Kemaren-kemaren kamu ketemuan sama Rima juga aku biasa-biasa aja kok” Jelasku.

“Apa kamu gak tahu? Aku itu cinta mati sama kamu Elsa. Dan kemaren waktu sama Rima itu aku hanya …”

“Hanya apa? Dasar playboy kamu, sukanya mainin perempuan” Aku sebal dengannya. Kemudian aku langsung mengajak Akbar pergi dari tempat ini.

Didalam mobil Akbar, aku memberanikan diri untuk bertanya sesuatu.

“Pak, boleh Elsa tanya sesuatu?” Tanyaku pada Akbar.

“Iya, tanya apa?”

“Bagaimana bisa Pak Akbar mendirikan caffe orion? Kenapa Pak Akbar bisnis caffe haram semacam itu?”

“Aku ini sebatangkara, Elsa. Aku harus memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Dulu caffe yang aku kelola tidak seburuk ini. Caffe ku ini seperti caffe chocholate, dan caffe-caffe lainnya yang hanya menyediakan menu-menu biasa. Tapi aku pernah hampir bangkrut dan hanya hal ini yang bisa menarik kembali para konsumen, akhirnya bisnis ini kembali bangkit dengan jalan yang seperti ini. Meski harus dengan minuman keras dan narkoba.”

“Masyaallah. Ada narkoba juga Pak?”

“Iya tapi, percayalah Elsa. Aku tidak pernah sekalipun memakai barang haram itu”

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Memang diantara para karyawan yang ada di caffe itu hanya aku yang sering diperlakukan istimewa oleh Akbar. Entah karena apa. Hanya aku yang selalu diantar pulang ke rumah, diajak makan diluar, dan diajak jalan-jalan.

Lama-lama Dodit tahu kalau aku bekerja di sebuah caffe milik Akbar. Doditpun menyelidiki semua tentang caffe itu hingga ia tahu kalau di caffe itu menyediakan  menu-menu haram. Kemudian Dodit melaporkanyya pada polisi. Bukan hanya Akbar yang diciduk oleh kepolisian, tapi aku juga ikut ditangkap karena aku dianggap ikut berkontribusi dalam penjualan barang haram itu.

Bukan ini yang ku harapkan. Oh Tuhan, andai aku orang kaya. Nasibku tak akan seburuk ini. Aku hanya ingin meringankan beban Ibuku yang hanya bekerja sendirian. Kasihan dia. Sudah sering sakit-sakitan tapi harus bekerja keras untuk makan kami sekeluarga, terlebih biaya sekolah kami yang mahal. Tapi kalau aku dipenjara seperti ini, bagaimana kalau Ibu tahu jika selama ini aku bekerja dicaffe haram.

Apa yang aku duga benar-benar terjadi. Dodit ternyata mengadu dengan Ibuku. Dia mengatakan bahwa aku terlibat dalam kasus pendistribusian narkoba dan miras. Selama ini Dodit tidak tahu kalau Ibuku punya penyakit kanker paru-paru. Aku mendengar kabar ini dari Rima yang baru saja menjengkku disini.

“Ya Allah! Elsa masuk penjara gara-gara narkoba? Orang setahu Ibu itu Elsa kerja di pabrik roti kok, le

“Dodit nggak bohong bu, Ini fotonya” Sambil menyodorkan ponsel yang berisi foto saat aku ditangkap.

“Pantas saja sudah seminggu ini Elsa tidak pulang, yang dikhawatirkan malah ternyata masuk penjara. Anak ustad kok ya masuk penjara gara-gara narkoba. Sudah mahasiswa kok ya gak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Malu-maluin Ibu saja. Aduh nduuk. Elsa..Elsa.” Kata Ibu sambil batuk-batuk dan menahan sesak didada.

Selama aku dipenjara aku tak pernah tahu bagaimana keadaan Ibu dirumah. Aku kangen sama Ibu. Ibu yang selama ini berjuang sendirian untukku dan adik-adikku pasti sekarang sedang khawatir memikirkanku. Rima bilang, keadaan Ibuku semakin parah. Batuknya berdarah terus, mukanya pucat pasi. Sekarang Ibuku masuk rumah sakit. Andai saat ini aku ada disamping Ibu, akan ku rawat ia sampai benar-benar sembuh kembali. Lama tak ku lihat senyumnya semenjak ayah meninggal. Yang ada hanyalah penderitaan yang silih berganti. Berjualan bakso keliling yang tak selamanya ramai pembeli. Ibu mendorong gerobak yang berat itu seorang diri. Menawarkan dagangannya dari desa ke desa, berteriak-teriak sambil menahan sakit di dadanya. Kasihan Ibu. Selama ini aku belum berbakti kepadanya. Aku hanya bisa menyusahkan Ibu. Andai aku tidak kuliah, pasti beban Ibu berkurang. Aku sangat merasa berdosa sama Ibu.

Aku meminta polisi untuk mengizinkanku menengok Ibu. Polisi itu sangat keras sekali. Aku tidak dibolehkan bertemu dengan Ibu. Kemudian ku desak polisi-polisi itu agar mengizinkanku, dan aku berhasil. Aku dikawal oleh dua orang polisi untuk pergi ke rumah sakit menengok Ibu. Aku diantar ke ruang mawar oleh mereka.

“Innalillahiwainnailaihirojiun..”

Ya Allah, ternyata Ibuku sudah meninggal. Anak macam apa aku ini, tidak menemani Ibunya yang sedang sakaratul maut. Banyak dosa yang aku lakukan terhadap Ibu dan aku belum sempat meminta maaf. Andai Tuhan memberiku waktu sedetik saja, mengizinkanku untuk melihat Ibu tersenyum karenaku. Andai Tuhan memberiku waktu untuk meminta maaf sama Ibu.

Wajah Ibuku sudah ditutupi kain putih yang membuatku tak bisa membendung air mata. Ingin sekali aku melihat Ibu meski sudah dalam keadaan tak bernyawa. Ingin sekali aku mencium keningnya untuk yang terakhir kalinya.

Aku menatap wajah yang tertutup kain putih itu sambil meneteskan air mata. Perlahan aku membuka kain penutupnya. Setelah terbuka, ternyata didalamnya bukan Ibu. Aku kaget dibuatnya.Aku menengok ke sekelilingku dengan panik. “Lalu dimana Ibu?”

Kemudian salah seorang suster memberitahuku kalau Ibuku sedang berada di ruang ICU. Aku lari ke kamar itu, dan aku melihat Ibu yang sedang kritis, kedua adikku, Rima, dan juga Dodit. Subhanallah, ternyata Tuhanku sangat baik kepadaku, masih memberiku kesempatan untuk meminta maaf kepada Ibu.

Aku memegang tangan Ibu dan menciumnya. Tak lama kemudian Ibuku membuka mata dengan lemasnya. Aku langsung meminta maaf sama Ibu, mencium kakinya, dan mencium keningnya.

“Ibuuu.. Maafin Elsa yang selama ini nyusahin Ibu, maafin Elsa yang selama ini durhaka sama Ibu yang semata-mata untuk kesenangan Elsa sendiri, Bu. Maafkan Elsa yang tak pernah merawat Ibu”

“Ibu sudah memaafkan kamu nduk. Toh ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu” Kata Ibu dengan lirih dan terbata-bata.

Lalu datanglah seorang polisi dan Akbar ke ruangan ini. Polisi itu menyatakan bahwa kami dibebaskan dari penjara. Ternyata kemarin Dodit mencabut tuntutannya dan sekarang baru di ACC. Meskipun bebas, tetapi Akbar tetap dikenakan denda karena ia pendistribusi barang haram itu. Caffe orion miliknya disita sebagai denda. Sedangkan aku dinyatakan tidak bersalah karena aku hanya seorang penyanyi di caffe itu. Melihat kami terbebas, Ibu tersenyum lirih diatas kasur ruang ICU itu.

Tak lama kemudian Ibu perlahan memejamkan mata. Innalillahiwainnailaihirojiun. Ternyata senyum yang ku lihat tadi adalah senyum terakhir Ibu.

“Aku janji akan bikin Ayah dan Ibu bahagia disana. Aku ingin menjadi wanita yang sholihah. Tak ingin masuk ke lembah hitam lagi. Dan aku akan merawat adik-adikku dengan baik”. Kataku sambil meneteskan air mata disamping Ibu. Lalu Akbar menyaut.

“Dan aku akan secepatnya menikahimu Elsa”

Ana Fitra Rozmi

 

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>