Cerpen, Sastra

Hujan di Sebuah Bibir Daun

Biji bunga matahari yang lima bulan lalu kami semai kini tengah membiakan daun-daunnya. Hijaunya ibarat malam yang gemar menyembunyikan tangis-tangis yang sebenarnya ingin dinyanyikan untuk orang lain karena suatu luka. Tapi malam selalu mengokohkannya agar air mata itu tidak pecah dengan sumbang. Betapa malam mengajarkan tegar.Itulah kalimat yang selalu Rumi katakan ketika mata kami berdua sedang mengintai tajam daun-daun bunga matahari itu. Namun ketika mataku menusuknya dengan pertanyaan, apa maksud kata-katanya, ia selalu tersenyum dan tiba-tiba di sudut matanya telah ada sebutir air mata. Ia tak pernah membiarkan air mata itu jatuh. Terkelebat dalam pikiran, bahwa ia sedang ada suatu hal yang belum sempat ia ceritakan padaku. Barangkali ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku tak pernah menanyakan apa masalahnya, karena sudah ku tahu jawabannya yaitu “Aku hanya terharu dengan dunia daun.”

Sudah enam bulan kami hidup bersama di kota yang bagi kami sama-sama asing. Di rumah kontrakan seadanya inilah  kami saling menyelami satu sama lain  untuk menyatu sebagai sepasang saudara. Saling mengenal bahasa suku masing-masing, hingga hal-hal yang menjadi kegemaran atau saling bertukar cerita harap akan impian. Rumi sangat menyukai daun daun. Semua barang yang ia miliki kebanyakan berwarna hijau. Sampul buku hariannya pun ia buat sendiri dengan daun-daunan. Kemudian yang ku tahu darinya lagi adalah ia seorang yang mempunyai imajinasi tinggi. Hampir tiap kali ketika kami sedang mendiskusikan sesuatu ia mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi pada dunia nyata.

“Salir, aku mempunyai mimpi. Aku akan membangun istana yang sangat megah di daun itu.”matanya menunjukan ke arah pohon mahoni, tepat di seberang kamar kami.

“Rum, ini dunia nyata. Tapi tak apalah jika kau memimpikan hal itu. Karena aku sudah tau bahwa kau sungguh berbakat sebagai pendongeng. Aku selalu terhibur.” Rumi hanya tersenyum mendengar jawaban itu.

“Salir kau sudah tahu bukan, bahwa seluruh daun-daun di dunia ini adalah nyawaku? Jika makin sedikit daun-daun itu berarti nyawaku berpacu cepat mengejar kematian. Darahku merasakan hal itu Salir. Mungkinkah diluar sana daun-daun mengalami kematian masal? Dibunuh ulat-ulat mungkin, atau dibakar oleh tangan-tangan biadab? Sungguh mengerikan.”

“Bisa jadi begitu. Sudahkah kau melihat berita sepekan ini? Banyak hutan-hutan yang dibakar. Pantas saja nyawamu berkurang Rum.” Jawabku ringan. Rumi menerawang jauh ke jendela. Matanya mengembun dan seketika itu wajahnya menerigu. Aku jadi merasa bersalah padanya.

Suatu hari, saat angin malam menggoyangkan ranting-ranting pohon dengan sapuan halus, lalu ranting itu merebahkan diri sebagai bayang-bayang yang jatuh di beku jalanan. Bulan duduk bersahaja di kursinya dan sedang mendoakan orang-orang yang sedang meluaskan ruang untuk menyambut tangan-Nya. Rumi membangunkanku dengan tergesa-gesa.

“Salir, salir, bangunlah! Ayo bangun! Tahajjud, lalu antarlah aku ke belakang. Di daun bunga matahari ada sebuah pesta meriah, ayolah temani aku untuk menyaksikannya. Aku takut keluar sendirian, Salir ayolah…,” Karena diriku tidak bangun-bangun, terdengarlah pintu berderit dengan amat perlahan. Ia memberanikan diri keluar rumah tanpa diriku. Setelah segenap pundi-pundi kesadaraanku terangkai, barulah kusadari betapa janggal perkataannya tadi. Mana mungkin ada pesta di sebuah daun. Mungkinkah ia sedang mengigau lalu alam bawah sadarnya terperangkap pada imajinasi dongeng. Aku buru-buru mengejarnya.

Bau tanah dini hari dicampur dengan bau yang dibawa angin memekakan hidungku. Harumnya dini hari sangat khas. Tanpa hamparan sandal, kakiku meraba duri rumputan yang subur tumbuh di bagian luar kontrakan. Jantungku menggemuk dan kempis dengan cepat. Mataku menuntunku untuk ke belakang kontrakan tempat daun bunga matahari tumbuh. Rumi pasti sedang terlena dengan imajinasinya akan sebuah pesta meriah di sana. Jika aku bukan sahabatnya yang dekat, pasti sudah kuanggap ia gila.

Benar adanya. Tubuh Rumi tertangkap oleh lensaku sedang duduk di dekat daun matahari. Raut mukanya berbinar-binar. Bibirnya sedang melahirkan beribu bunga. Matanya tak berkedip sedikitpun mengamati daun-daun yang bergoyang. Lirih gema dzikirnya terekam pada telingaku,”Subhanallah, subhanallah, indah nya pesta itu.”

Wajahnya menggenangkan air dari hulu matanya. Tubuhnya menggigil. Meski begitu bibirnya tetap bermekaran seperti teratai yang menghampar pada permukaan sungai.

“Rumi, Rumi…, baik-baik sajakah dirimu?” Kataku yang didekte oleh keheningan. Suaraku bergetar.

“Salir, kau sudah bangun? Kemarilah! Lihatlah ini, di sini  ada pesta.”

Tubuhku mendekatinya. Ia bangkit, jari telunjuknya menunjuk daun-daun.

“Lihat ini, Salir. Di sinilah pesta itu. Kau lihat kan? Jamuan pada pesta ini teramat banyak, berupa-rupa warna dan rasa. Nyala lampunya sangat terang bukan, dari pada nyala lampu di kontrakan kita. Lihat itu juga mereka memainkan musik. Aku masih ingat jika kau mempunyai uang banyak nanti kau ingin melihat konser orkestra. Sekarang impianmu terkabul malam ini. Untung saja kau bangun, jika tidak kau tidak akan melihat keindahan ini.  Aku sampai menangis melihatnya. Aku terharu betapa Tuhan selalu bermurah hati padaku.” Katanya bersemangat.

Setelah aku mendengar segala kegirangannya malam ini. Dalam dada ada semacam belati menancap dalam. Sejauh itulah kepandaiannya dalam berimajinasi. Seorang yang normal tidak akan bisa melakukannya dengan sesempurna itu. Sudah gilakah Rumi? Aku memang merasakan dari hari ke hari tingkah Rumi dan pemikirannya semakin menunjukan ketidak masukakalan.

Suatu hari Rumi menceritakan kisah hidup ibunya sebelum pada akhirnya ia bertemu denganku saat ini. Ia menceritakan betapa ibunya yang sebagai ibu rumah tangga amat menderita batinnya, air matanya saban hari luruh ketika malam datang. Ibunya  kerap sekali memasak air pada jam 3 malam untuk mengompres matanya yang menggelembung. Melalui jendela dapur ibunya itu menghirup udara sebanyak mungkin seolah ia merasakan panas pada hatinya yang tak tertanggungkan dan menemukan sedikit penyejuk melalui udara dini hari. Melalui sapu tangan putih yang kata ibunya adalah warisan dari neneknya adalah saksi bisu yang memapah Rumi mengetahui ibunya selalui menghapus air matanya dengan sapu tangan itu. Meski begitu Rumi berpura-pura tidak tahu apa-apa hanya saja di hatinya yang dalam tertoreh amarah kepada ayahnya. ayahku lah yang mengusik jiwa perempuan bermata sendu itu, katanya. Ayahnya selalu menyudutkan ibunya. Dari perihal urusan rumah tangga, ayahnya selalu menampar celaan pada makanan yang susah payah dibuatkan ibunya, keasinanlah, terlalu pedas dan sebagainya, hingga masalah tentang pemikiran ibunya yang kampungan. Ayahnya gemar membanggakan wanita lain dihadapan istri dan adik-adik Rumi. Dengan jiwa yang biru, Ibunya selalu tersenyum teduh meski dalam dadanya telah remuk redam telah dibanding-bandingkan dengan wanita lain.

“Aku tak pernah melihat ibuku menangis, namun aku sering melihat ia menghapus air mata diam-diam. Aku belajar berlapang dada darinya. Tiap malam ia duduk di tempat tidurku dan tempat tidur adik-adikku. Dilantunkanlah al fatihahdengan nada yang merdu, setelah itu ia memberikan cerita-cerita tentang para istri nabi yang amat cerdas dan mulia jiwanya. Ia selalu memberi nasehat jika kelak aku dan kedua adikku, Sundari dan Fatmawati dewasa jadilah wanita-wanita yang berpendidikan tinggi dan bermanfaat untuk semua makhluk. Dan masih banyak lagi nasehat-nasehat darinya yang tertancap di tubuhku dan pikiranku. Sebenarnya ibuku lah yang merencanakan agar aku bisa pergi dari rumah dan melanjutkan kuliah. Setelah aku lulus sekolah menengah atas, ayah membawa perjaka lapuk ke rumah untuk meminangku. Katanya ia seorang yang kaya. Tapi apa boleh buat aku tak ingin menikah aku tidak mencintainya. aku ingin merantau ke pulau orang dan mencari ilmu. Keluargaku bukan keluarga yang kekurangan makanan Lir, tapi entah mengapa aku merasa kehidupanku dengan dirimu saat ini seakan lebih kaya padahal kita berdua kerap kelaparan di sini” Ia tersenyum  tawar. Matanya menerawang jauh hingga menembus atap rumah. Di luar angin menggoyangkan pohon bambu hingga bergesekanlah daun-daunnya membentuk suara pasir yang tumpah.

“Tidak inginkah kau pulang ke asal mu Rum, keluarga adalah tempat yang paling bisa menerimamu apa adanya. Tidak rindukah kau dengan keluargamu, jika bukan untuk ayahmu paling tidak untuk ibumu, Sundari dan Fatmawati?”

“Jika ku pulang maka aku telah menyulam sakit hati Salir. ibuku penggemar bunga-bunga. Aku teringat Pada halaman rumahku yang masih tersisa tiga kali lima meter ditanamilah berbagai macam bunga oleh ibuku, dirawat penuh perhatian seperti merawat anak-anaknya sendiri. Bunga-bunga itu adalah temannya ketika semua keluargaku sibuk, Aku dan adik-adikku sekolah sedang ayah bekerja di balai kota. Selanjutnya, dua hari setelah bunga-bunga ibu sedang ranum dibantailah oleh ayah tanpa pamit terlebih dahulu, lalu di tanah itu dibangun semacam gardu, sebagai tempat duduk manis ayah sambil membaca koran. Mungkin aku mirip ibuku dalam hal mencintai daun dan bunga-bungaan. Hancurlah hati ini Lir bersama mayat-mayat tumbuhan itu. Berbeda dengan ibu yang mengemas hancurnya dengan senyum tabah, aku memberontak dalam kata-kata yang hingga saat ini belum sempat terdengar oleh telinga ayahku. Hari-hariku dengan ayah yang tersemat hanyalah kebisuan dan sikap dingin”

Pada bibir danau lima puluh meter dari kontrakan, Rumi duduk tenang. Kaki kanannya sengaja ia hamparkan pada air  danau yang diam. Tidak ada suara terekam kecuali desah napas Rumi. Daun-daun menyentuh sekujur tubuhnya dan ia menikmati itu seperti belaian dari ibunya. Sepekan setelah ia seolah melihat pesta pada daun matahari, hari-harinya diliputi kemurungan. Setiap pulang kuliah atau pulang kerja ia langsung merapat pada danau atau kebelakang kontrakan untuk mengamati daun-daun. Hiburan kerinduannya adalah daun-daun. Apalagi seusai ku kabarkan bahwa selama liburan ini yakni selama tiga bulan aku akan pulang ke tempat kelahiran. Aku paham betul perasaannya. Ia tak bisa pulang ke kampung halaman, disisi lain ia akan ku tinggal.

Matahari muda tumbuh semai di ubun-ubun kami sebagai pengiring perpisahansementara ini. Mata kami tidak lekas mau terputus dalam tatapan cinta ini. Berat rasanya. Rumi tetap tersenyum, sedang aku sudah tak ingat lagi sejak kapan genangan air sudah bermukim di hamparan wajah. Ia membantu membawakan tas besarku. Tepat di depan kontrakan, minibus sudah berhenti. Kami berpelukan, dalam senyuman sederhana kami saling melepas.

“Aku tidak akan apa-apa Salir, pulanglah dengan hati senang tanpa bimbang memikirkanku. Daun-daun yang ada di sini  adalah keluargaku, nyawaku”

“Jagalah kesehatan Rum, jangan sering melamun” Kataku setengah berteriak dalam minibus. Tidak peduli semua orang memandangku sinis.

“Iya Salir, salam buat keluarga besarmu” jawabnya, tangannya melambai ke arahku. Tubuh Rumi yang kecil lambat laun menjadi kabur dalam bingkai kelopak mata seiring mini bus yang aku tumpangi melesat meninggalkan kontrakan.

Tiga bulan berlalu dengan lama. Semenjak ku pulang ke tanah kelahiran, Rumi sudah berkirim surat sebanyak tiga kali. Dalam suratnya ia bercerita jumlah daun pada tanaman matahari sudah bertambah banyak. Ia juga sudah menikmati kuacinya. Rumi juga menceritakan lima hari setelah ku tinggal ia mendapat surat dari seberang pulau: surat dari adiknya Sukmawati. Adiknya yang katanya kini sudah berumur 19 tahun itu mengabarkan bahwa Sundari telah meninggal akibat sakit demam berdarah. Rumi mengatakan sebenarnya ia ingin pulang ke kampung halaman, namun dalam surat yang dikirim oleh Sukmawati, ibunya melarangnya untuk pulang karena surat itu hanya bersifat pemberitahuan. Selebihnya surat balasanku tak kunjung ia balas. Aku cemas.

Bersama hari yang pucat dan suara burung kala waktu mendekati senja kakiku menginjak kontrakan. Satu hari penuh direngkuh lelah perjalanan dari rumah ke kontrakan cukup membuat seluruh tulang tubuh seakan terlucuti. Tiga bulan berlalu, inilah waktunya memandang Rumi secara sempurna sebagai penawar rindu yang tak tertanggungkan dalam dada.

“Assalamu’alaikum, Rum…Rumi…?”tidak ada sahutan, hanya sekedar suara tikus yang berdencit.

“Rumi, aku pulang…” kembali tak ada sahutan, barangkali Rumi masih di luar.

Seluruh barang bawaan dari rumah ku tata dalam lemari kontrakan sambil menunggu kepulangan Rumi. Aku tak sabar mendengarnya berseloroh tentang daun-daunnya, atau apa saja peristiwa selama ia kutinggal sendiri di sini. Tanpa sengaja di bawah pintu kutemukan sepucuk amplop berwarna hijau. Sudah kuduga ini pasti dari Rumi yang didalamnya terdapat puisi untukku. Ia sudah terbiasa begitu. Dengan tidak sabar kubuka amplop itu.

Assalamu’alaikum.

Untuk Salir.

Dalam segala cinta kutulis ini untukmu untuk memberitahukan sekarang aku pulang ke kampung halaman. Rinduku buat ibu dan Sukmawati sudah menggebu. Maaf barangkali ketika kau kirim surat balasan untukku tak ku balas karena kusudah berada dikampung halaman. Entah seberapa lama akhirnya kau menemukan surat ini tapi aku yakin surat ini akan kau baca. Sekarang posisiku sulit Salir, ayahku marah besar dan menahanku untuk kembali ke kontrakan. Ia sudah tahu kepergianku adalah rencana ibuku. Justru sekarang ini ayahku akan menikahkanku dengan perjaka lapuk dahulu yang pernah kuceritakan. Tidak peduli perasaanku bagaimana. Disini aku dikurung dalam rumah. Aaku merasa nyawaku perlahan habis karena tak bisa melihat daunan. Rumahku gersang Salir. Tapi tak mengapa belajar setinggi langit masih di depan mata. Aku sedang merencanakan meninggalkan rumah tanpa di ketahui siapapun. Aku akan kembali bersamamu. Aku bertahan di sini tak lain karena daun-daun matahari kita dan kawasan danau penuh daun-daun yang kerap merengkuh wajahku. Merekalah nyawaku Salir.

Sedikit bercerita, surat ini hingga sampai ketanganmu itu berkat baik hatinya sukmawati. Susah payah mengusahakan surat ini sampai ke tukang pos. Maka jangan kau balas surat ku ini. Karena aku tahu pasti tak akan sampai ketanganku melainkan ayahku. Tunggulah aku datang.

Yang mencintaimu

Rumi

Sudah enam kali bulan purnama ku tatap di langit. Rumi tak kunjung tiba. Bagaimana keadaan Rumi sekarang. Dalam gagu ruang ketukan pintu terdengar. Rumi?

“Assalamu’alaikum…Salir…Salir?”

“Wa’alaikumsalam, iya”

“Memberitahukan Salir, kawasan danau sekarang terbakar dari kabar angin sengaja dibakar karena kawasan danau itu akan di adakan proyek pembangunan perumahan, besok semua warga sini akan demo makanya ku datang malam ini ke sini. Sudah itu saja. Saya permisi ya…”

“Iya, Bu…” aku ternganga. Nyawa Rumi terbakar.

Masih tersisa, iya nyawa Rumi masih tersisa. Di belakang rumah masih ada daun-daun matahari. Aku berlari ke belakang kontrakan. Kudapati disana ribuan ulat bulu mempragas habis daun-daun matahari. hanya tinggal satu daun tersisa. Entah dari mana muasalnya aku dapat melihat pesta di permukaan daun itu. Tapi itu pesta kematian. Rumiku, Rumi…, bagaimana kau di sana? Nyawamu hanya tinggal satu disini. Dari malam ini aku tak akan mengira Rumi seorang yang gila karena aku juga melihat pesta di permukaan daun. Tapi bagaimana dengan Rumi? Tanpa kusadari bajuku telah basah kuyup. Tangkai dari daun yang tersisa itu sudah di gerumuti ratusan ulat-ulat bulu yang mengerikan. Habis sudah. Habis sudah.yang tersisa hanya sebaris bibir daun. Musim penghujan datang ditandai gerimis ringan menyeringai bibir daun tersebut. Oh Rumi. Aku sendiri tak bisa membedakan mana hujan dan air mataku sendiri. Yang terbayang hanya Rumi. Hanya Rumi.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>