Cerpen, Sastra

Ketika Eros Salah Panah

Ilustrasi: panah

Mata Ray tampak melotot, otaknya berdebat apakah yang dilihatnya benar-benar nyata ataukah hanya mimpi. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, memastikan apakah ketika ia berkedip sosok dihadapannya akan menghilang. Namun, sosok didepannya tampak santai melihat Ray dengan tatapan, ‘Sudah terkejutnya?’

“Tidak mungkin, mereka hanya makluk mitos, pasti hanya mimpi,” Ray menggerutu sambil melihat masih dengan ekspresi tak percaya, “Ini pasti hanya khayalanku. Ah aku sudah gila, setelah mengajaknya bicara dalam khayal, kini aku memvisualisasikan dia menjadi nyata.”

“Hei jangan melihatku seakan kau bernafsu kepadaku seperti itu!”Seru sosok yang mulai bosan dipelototi terus.

“Eh, kau bicara?Apa aku tidak salah dengar?”Sahut Ray dengan mimik bodohnya.

“Tentu saja, kau seperti tidak percaya melihatku sedangkan tiap hari kau menuliskan tulisan galau dan menujukannya untukku.”Rutuknya.

“Tapi kenapa bisa?”Balas Ray, kini wajahnya bisa agak dikondisikan.

“Kau pikir saja sendiri kenapa!”

“Jadi kau nyata?Berarti selama ini kau tahu semua isi hatiku?” Tanya Ray.

“Sudah pasti.”

***

Ray tidak pernah menyangka, makhluk yang selama ini dia jadikan teman sewaktu menuliskan kegelisahan hatinya tadi, kini menghamipiri, bahkan bercakap-cakap.Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.Tapi Ray tidak tahu, harus senang atau kesal, selama ini dia tidak pernah bercerita tentang dirinya kepada siapapun kecuali sebatas cuap-cuapnya yang berwujud tulisan.

“Gadis itu, sebenarnya dia mencintaiku atau tidak? Dia yang membuatku menciptakan makhluk itu ada dalam setiap kegalauanku,”  Ketika Ray sedang bermonolog dengan hatinya, Elsa dan Anna sedang menuju kearahnya.

“Hai Ray, boleh kami duduk di sini?” Ucap Elsa, duduk tanpa menunggu jawaban persetujuan.

“Hai, iya silahkan.”Walaupun bicaranya tenang.Sesungguhnya hati Ray seperti baru menaiki tangga lantai tak berujung.Berdetak begitu terburu-buru.

“Oh jadi gadis ini yang kau sukai?”Eros mengibaskan sayapnya, duduk di sebelah Ray, “Apa kau ingin tahu perasaan kedua gadis ini padamu?”

“Diam!”Bisik Ray yang lebih seperti deheman.

“Kau bicara sesuatu Ray?” Tanya Elsa.

“Eh, tidak ada.Tenggorokanku tadi agak gatal.”Tangan Ray menyubit Eros, “Masih ada kelas atau tidak kalian?”

“Iya, masih ada.Kami menunggu waktu dengan duduk di sini.” Jawab Anna. “Kalau kamu Ray?”

“Aku ada kelas sebentar lagi, kalau gitu aku permisi ya?” Kedua gadis itu tersenyum manis.

***

“Eros, tadi siang kau bilang apakah aku ingin tahu perasaan kedua gadis itu terhadapku.Itu berarti kau tahu perasaan mereka padaku?” Ray membolak-balik buku, “Jadi perasaan mereka padaku apa? Ini dia, ketemu. Kau punya dua panah, pertama panah emas yang apabila dipanahkan akan membuat seseorang jatuh cinta, dan yang kedua panah perak yang apabila dipanahkan akan membuat seseorang benci. Jadi apa itu benar Eros?”

“Hei, kau dengarkan aku bicara tidak?Kenapa diam saja?”

“Eros!”

“Kau tadi menyuruhku diam, Ray.”

“Oke maaf, oh ya apa mereka tidak bisa melihatmu?”

“Tidak bisa, hanya kau yang bisa.Ini adalah kondisi khusus, kau diberi keistimewaan ini.”

Ray kira ini adalah mimpi, tapi setiap ia ingin bangun dari mimpi itu ternyata dia justru tertidur, kelelahan berfikir tentang alam mimpi atau nyata. Dulu, ia sering berkhayal makhluk mitos dari Yunani itu muncul dihadapannya, memintanya memanah gadis yang ia cintai. Sekarang, bahkan antara mimpi dan nyata, tak bisa ia bedakan.

“Mereka tidak bisa melihatnya,” guman Ray.“Tapi aku bisa menyentuhnya, bahkan mencubit.”

Sejak merasakan jatuh cinta, sebenarnya dia tidak tahu apakah itu cinta atau bukan. Dia hanya bisa menuangkan perasaannya dalam kata-kata, tanpa mampu mengungkapkan pada gadis yang dicintainya, bahkan untuk sekadar menyelipkan nama gadis itu, dia terlalu pemalu.

Eros, dewa cinta dari Yunani yang bertugas memanahkan panahnya, agar tercipta cinta diantara dua manusia. Ray mengagumi kemampuannya, dia selalu penasaran bagaimana caranya memanah, bagaimana wujud panah itu, bagaimana rupa sang pemanah, semuanya. Ia tertarik semua yang ada pada Eros.

“Eros.”

“Ya, Ray?”

Ray menoleh, terkejut, “Sejak kapan kau di situ?”

“Sepuluh detik yang lalu, tepat saat kau menyebut namaku.”Eros tersenyum, melihatkan gigi ratanya. Menurut Ray, dia seperti aktorhollywood, perpaduan antara Ansel Elgort dan Dylan O’Brien.

“Kau datang ketika aku menyebut namamu?”

“Bisa kau simpulkan sendiri.”

“Omong-omong, apa dewa itu terlalu miskin untuk berpakaian sopan?”

“Apa maksudmu!”

Ray tertawa mengejek, “Walaupun aku pernah melihat gambarmu, tapi aku gak nyangka aja, pakaianmu masih seperti ribuan tahun tahun yang lalu.”

“Aku tidak datang untuk kau ejek!”Sayap Eros menutupi tubuh bagian depannya, “Kalau begitu aku permisi.”

“Eh tunggu!” Sergah Ray.

“Kalau kau memanggilku hanya untuk mengejek kostumku, aku akan pergi.Dan kau tahu? Aku bisa saja berpakaian seperti orang-orang modern yang setiap tahun selalu berganti gaya. Tapi aku lebih suka orang-orang dahulu dengan kesederhanaannya.”

“Ternyata kau sensi juga, baiklah lupakan, aku minta maaf.Jadi benar kau punya dua panah yang tempo hari kusebutkan itu?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku mencintai gadis itu, setiap aku dekat dengannya aku merasa bahagia, tapi aku selalu terlalu kaku untuk memulai obrolan.Ketika malam, aku merindukannya, memikirkannya sedang melakukan apa dia. Aku membayangkan bisa duduk berdua dengannya, melihat bulan dan gemintang, sedang tangan kita saling menghangatkan. Apa menurutmu itu cinta?”

“Kenapa kau mencintainya?”

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Apa karena dia cantik?”

“Bukan, tapi dimataku dia gadis yang paling cantik, bukan hanya cantik, dia juga manis, dan manisnya tidak membuat diabetes.”

“Jawab saja pertanyaanku itu.Aku akan memberimu waktu, silahkan pikirkan.”

Tentang cinta, Ray selalu ingin mendefinisikan cinta. Benarkah cinta itu hanya sebatas alat untuk tetap berjalannya reproduksi manusia seperti teorinya Shakespeare.Kalau begitu tidak mengherankan jika cinta dijadikan alat untuk pemuas nafsu birahi.Betapa menyedihkan laki-laki yang menggunakan cinta sebagai alat untuk memuaskan gairahnya.

Tidak, menurutnya cinta bukan seperti itu.Jika menurut Plato cinta ada tiga, yaitu Eros, Philia dan Agape. Maka dia lebih memilih konsep cinta Agape yang akan dia pegang dalam hidupnya. Cinta yang tak mengharapkan apa-apa kecuali memberi kekuatan untuk seseorang yang dicintai.Seperti yang dikatakan Erich Fromm, cinta itu yang utama memberi, bukan menerima.

Maka laki-laki yang hanya bisa menuntut untuk diberi, apalagi hal yang merendahkan perempuan.Dia hanya mempergunakan cinta sebagai topeng dari nafsu jahatnya.Dan jika dia seorang perempuan yang menerima hal itu, dia akan bertanya pada lelakinya, ‘Kenapa kau mencintaiku?’

“Eros.”

“Kau sudah tahu jawabannya?”

“Bagiku lebih mudah menjawab seberapa besar aku mencintainya dari pada kenapa aku mencintainya.Atau kau diam-diam memanahku?”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Bisakah kau memanahnya untukku?”

“Kau yakin?”

“Apa dia mencintaiku?Kau pernah bertanya apa aku ingin tahu perasaannya padaku.”

“Mana aku tahu.Senjataku hanya panah ini, jika kau mau, baiklah aku akan memanah dia agar dia mencintaimu.”

***

Kelas dengan didominasi warna hijau masih sepi penghuni ketika Ray masuk.Hanya ada suara kipas angin yang berputar di atas bangku-bangku yang tidak beraturan.Sementara itu lampu-lampu menambah jelas ketidakteraturan itu.

“Boleh aku bantu?”Elsa sudah memegang kursi untuk menatanya.

“Itu sudah menjadi kewajibanmu.”Jawab Ray dengan menggeser kursi agar teratur.

“Apa?”

“Maksudku sebagai mahasiswa.”

“Kamu selalu datang awal?”Elsa duduk, kursi-kursi sudah rapi, “Dan senang sekali mengatur bangku-bangku ini.”

“Aku hanya tidak mau didahului dosen.”Ray mengendikkan bahunya, “Memposisikan diri sebagai yang membutuhkan.”

“Boleh aku bertanya Ray?”

“Tanya apa?”

Mata Elsa memandang keluar jendela, membelakangi Ray.“Jika ada perempuan yang menyatakan cinta padamu, apa pandanganmu?”

“Berarti perempuan itu benar-benar mencintaiku.”Jawab Ray santai.

“Kau tidak memandangnya rendah?”Kini Elsa memandang Ray.

“Aku rasa itu bukan sesuatu yang rendah.”

“Aku mencintaimu Ray.”Elsa berlari keluar kelas.Bertubrukan dengan sahabatnya, Anna.

“Apa?”Spontan Ray mengejar Elsa, dan Anna menghentikannya.

“Apa yang kau lakukan pada Elsa?”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kenapa dia berlari dan saat menabrakku dia seperti ketakutan.”Nada bicara Anna meninggi satu oktaf,“Lalu kau menyusulnya, ada apa dengan kalian?”

Ray gugup, “Aaa- kuu…”

“Aku akan menyusul dia, kau masuk kelas saja.Awas kau kalau Elsa kenapa-kenapa.Kau akan menyesal.”

Pemaparan pemakalah hanya menambah pusing Ray. Pikirannya sama sekali tidak berada di kelas. Terbang mencari-cari keberadaan kedua gadis itu.Mereka tidak masuk kelas.Sementara itu dua gadis sedang menangis bersama karena perasaan mereka yang tak bisa mereka jelaskan.

Ray bertanya-tanya, kenapa Elsa tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya, selama ini Elsa bersikap biasa saja terhadapnya, seperti halnya teman perempuan yang lain. Sedangkan Anna, dia begitu keras terhadapnya tadi, baru sekali itu Ray melihat Anna dengan sorot mata tajam kepadanya.

Kunci semua ini adalah Eros, Ray teringat pada apa yang akan dilakukan Eros terhadap gadis yang di cintainya tempo hari.

“Eroooos,”

“Tidak usah berteriak, aku sudah dengar.”Seperti biasa, Eros secepat kilat sudah berada di belakang Ray saat dipanggil.

“Kenapa Elsa tiba-tiba menyatakan cinta padaku?”

“Bukannya itu yang kau inginkan?”

“Tidak, sama sekali aku tidak menginginkan itu.”

“Kau ingin Elsa mencintaimukan?”

“Ya ampun, tidak! Bukan Elsa!”Suara Ray melemah, “Tapi Anna.”

“Apa?”Sayap Eros meregang, dia begitu terkejut, “Aku kira Elsa,” Menunduk, “Dia lebih cantik dari Anna”

“Sialan kau, kenapa kau tidak tanya dulu kalau tidak tahu. Aku mencintai Anna, bagiku Anna yang tercantik.Aku mencintainya, tanpa ‘kenapa’, aku mencintai Anna, Eros.”Ray sesenggukan, “Kau tidak berguna.”

“Maaf, aku kira kau mencintai Elsa,” Sayap Eros layu, bagai daun yang kehilangan klorofilnya dan menunggu jatuh, “Ini benar-benar bencana, aku merusak cinta yang tulus.Saat aku mau memanah Elsa, Anna sedang membicarakan perasaannya padamu pada Elsa, dia mencintaimu. Aku pikir jika kedua sahabat itu mencintaimu, Elsa tidak akan bisa bersatu denganmu, jadi aku panah Elsa dengan panah emas dan Anna dengan panah perak.”

–Ray tertunduk lemas, “Aku menyesal telah memaksakan cinta.”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>