Esai

Bapak Bilang, Itu Saringan Tahu

Cerita ini saya mulai saat sedang berjaga di stand untuk menjaring peserta seminar sastra bersama Tasaro GK. Hilir mudik langkah mahasiswa tidak lepas dari tatapan ini. Dari mata, turun ke hati hingga sampai kaki semua saya amati. Dan tiba-tibatatapan mata terhenti pada seorang gadis cantik, modis, dan girly. Pakaian yang serba cerah mengundang semua orang ingin memandang. Bukan karena paras yang menawan, atau saya jatuh cinta pada mbak-mbak tersebut. Namun teriknya matahari siang itu menjadikan rok yang dikenakannya  memperlihatkan benda dibalik rok tersebut. Ternyata diam-diam rekan yang ikut berjaga stand juga mengamati hal yang sama. Hingga kedua mata yang tidak sanggup memandang mengirimkan sinyal pada mulutnya untuk berkata, “Itu mbaknya tidak pakai trening (Jawa: celana yang biasa dipakai untuk daleman) atau gimana sih? Aku yang cewek aja lihatnya geli,”. Karena saya merasakan hal yang serupa, bibir ini pun mulai ikut berkomentar, “Aku dulu pernah pakai rok kaya gitu, tapi sepertinya nggak sampai dalam-dalamnya juga kelihatan. Itu porno aksi yang disengaja namanya. Meresahkan!”.

Memang dulu saya sendiri sempat menggunakan rok sifon macam mbak-mbak tadi, hingga suatu saat saya mendapatkan musibah, dua rok sifon yang saya miliki bolong terbakar knalpot. Tragedi ini terjadi tepat setelah bapak mengingatkan jika rok tersebut tidak layak pakai karena terlalu tipis dari klambu. Ia pun  berulang kali menegur, “Roknya mbok ganti. Luwih tipis timbang klambu kok dienggo. Kui rok opo saringan tahu tipis kokui keh,”. Sontak aku terhenyak mendengar kata “saringan tahu”. Kadang tertawa geli mendengar kalimat tersebut, akan tetapi rasa risih juga menghantui manakala mengamati rok yang saya pakai saat itu. Di sepanjang jalan saya terus berfikir keras dan terus memandangi rok sifon yang saya kenakan. Setelah diamati lekat-lekat, memang benar rok ini agak tembus pandang. Sejak kedua tragedi rok bolong terkena senalpot saya tidak lagi membeli rok sifon, dan memutuskan menanggalkan “saringan tahu”  tersebut.

Apa Fungsi Pakaian Sebenarnya?

Pada hakikatnya pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia setelah pangan dan papan. Selain itu, benda ini juga merupakan hasil budaya yang berguna untuk menutupi tubuh kita agar tidak terlihat oleh orang lain atau bahkan lawan jenis. Dalam pepatah jawa yang berbunyi ajining sarira dumung ing busana, maknanya pakaian menunjukkan bagaimana kepribadian si pemakainya. Jika demikian, pakaian dapat dijadikan indikator bagi kita dalam menilai seseorang. Misalnya seroang mahasiswa yang berpakaian rapih dan necis, cenderung menunjukkan kepribadian yang rapih, tertata, dan rajin.

Busana ala Mahasiswa Kampus Islam

Pada hari ini, kita sedang mengenyam pendidikan di kampus IAIN Pekalongan. Yakni kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Kepribadian seorang yang islami dapat terpancar melalui gaya dalam berpakaian. Jika mengikuti pepatah jawa ajining sarira dumung ing busana, maka sudah pasti pakaian kita bukanlah semacam rok sifon tadi. Sebab rok tersebut mempertontonkan anggota tubuh yang tidak seharusnya dilihat orang. Islam mengajarkam kita untuk senatiasa menutup aurat, sebagaimana fungsi pakaian yang utama yakni menutup aurat. Mengenai hal ini Allah telah menjelaskanya dalam Al-A’raf ayat 26:

Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Lalu apakah pakaian mbak-mbak tadi dapat mencerminkan mahasiswa kampus islam?. Disini saya tidak ingin menjustifikasi siapapun, karena saya juga pernah memakai jenis rok tersebut. Namun, lambat laun saya menyadari bagaimana kekhawatiran seorang ayah dan kegelian rekan jaga stand saya yang memperhatikan pemakai rok yang agak transparan tersebut. Alasannya cuma satu, yakni takut mengundang syahwat dari lawan jenis. Lagi pula tidak ada yang tahu isi hati seseorang, siapa tahu ada yang sedang mengamati pakaian kita dan mengimajinasikan apa yang mereka lihat. Bahaya kan kalau hal tersebut sampai terjadi? Ah, malu rasanya jika hal tersebut terjadi pada kita (wanita).

Akan lebih baik jika kita mengenakan pakaian yang sopan. Karena dari pakaian tersebut dapat memberikan rasa aman, khusunya bagi wanita akan terhindar dari mata-mata iblis yang mengintai. Allah juga telah memperingatkan dalam surat Al’Araf ayat 27 yang berbunyi:

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Keputusan untuk memakai pakaian apapun itu merupakan zona pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun. Namun jika pakaian yang kita pakai justru tidak menutupi tubuh kita untuk apa pakaian tersebut dipakai? Yang ada kita bisa masuk angin atau bahkan melakukan mempermalukan diri kita sendiri. Boleh saja memakai roksifon, tapi mbok ya dilihat bahannya, kalau setipis saringan tahusaran saya mending pakai trening saja, agar saat berjalan di tempat tidak jadi tontonan mata-mata setan dan menimbulkan dosa bagi yang lain. (red)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>